Cerita Hatiku
Aku hanyalah seorang siswi SMA kelas 1 yang masih bimbang akan kekuatan cinta. Perih hati kurasa, ketika seseorang yang pernah kusayangi, yang berjanji akan setia padaku tiba-tiba pergi. Bisakah kau membayangkan sebuah rasa kehilangan yang dalam?
Ketika rasa itu mulai memoles dan membekukan seluruh hatimu tanpa terkecuali, kau seakan melawan Tuhan dengan mengambil alih semuanya; pikirannya, tubuhnya, bahkan hatinya. Seakan-akan kaulah pemiliknya. Hanya kau. Bukan yang lain. Semuanya semu. Tapi, hanya ia yang nyata bagi hatimu. Bukan yang lain. Kira-kira, seperti itulah yang kurasakan, 2 tahun yang lalu.
Dia adalah cinta pertamaku. Dialah pemenang hatiku dari sekian banyak lelaki yang memperebutkanku. Dialah satu-satunya yang dapat menggetarkan hatiku ketika aku mengingatnya, membuatku tersenyum hanya dengan menyebut namanya, mengharapkan kehadirannya setiap waktu. Tapi sekali lagi, itu adalah yang kurasakan 2 tahun yang lalu.
Bisakah kau membayangkan, dua orang yang sedang duduk bersama menikmati senja di tepi Laut Kenjeran sambil makan keripik kentang? Saling tersenyum, dia membelai pipiku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ah, indah sekali waktu itu. Aku bersandar di pundaknya, berharap akan selamanya aku akan bersandar pundak ini, hingga ajalku tiba. Sinar-sinar mentari sore menyapu hangat kedua wajah kami, dan kami tenggelam dalam senja yang syahdu. Tak pernah ada yang mengingatkan kami bahwa Maghrib sudah tiba kecuali suara adzan dari HP-ku.
Ketika itu, kami tak ingin beranjak. Seakan ada lem yang erat, kuat, melebihi kadar kelengketan lem manapun di dunia ini. Lem cinta. Lem yang akan mengikat kami berdua seperti perangko ke mana-mana, kompak, dan sehati. Dan itu terjadi 1 tahun yang lalu.
Setahun, dua tahun. Aku masih bisa merasakan perasaan yang sama ketika aku mengucapkan janji setia padanya. Aku masih ingat bagaimana aku malu-malu menjawab pertanyaannya dan bahwa aku ingin setia hanya bersamanya hingga ajal menantiku. Getar itu masih sama. Hingga kau membaca tulisan ini, rasa itu masih ada. Yang kata sebagian orang mungkin merasa kesulitan untuk merasakan cinta yang abadi, tulus, dan sepenuh hati. Inikah yang disebut cinta sejati? Rela berkorban hingga nanti dan tanpa syarat?
Bagaimana dengannya sekarang? Aku tak pernah melihatnya sekali saja tertawa tulus, lepas, dan spontan karena tingkahku ketika memakai sandal yang salah, jatuh terpeleset, dan perbuatan konyolku yang lain. Perasaannya membeku, sorot matanya dingin, dan jauh dalam lubuk hatinya seakan mengatakan padaku, “Aku sudah melupakanmu. Jadi, buat apa kau di sini? Aku sudah tidak mencintaimu lagi.“ Dan ia pergi ke suatu tempat yang berjarak satu jam dari sini.
Kukemanakan cintaku? Bagaimana tentang janji kita? Siapa lagi yang menambal lubang di hatiku yang kian lebar menganga? Aku sudah berusaha menembelnya berkali-kali. Tapi berkali-kali pula aku gagal. Karena setiap yang dia lakukan, selalu kuingat. Apa yang dia makan, aku ingat. Apa yang dipakainya, aku ingat. Pikiran-pikiranku selalu kacau dengan hal-hal tentangnya.
Bukuku penuh dengan catatan kepahlawanannya, dinding kamarku telah habis karena kujadikan tempat untuk mencoret-coret namanya, memori kosong di HP-ku penuh dengan foto-fotoku bersamanya. Tapi, mengapa lidahku kelu menyebut namamu, Cinta?
Maukah kau mendengarkan cerita hatiku satu lagi?
Seminggu yang lalu, setelah merayakan hari jadi kami yang ke-2, dia mengajakku ke sebuah tempat terindah kami. Tepi Laut Kenjeran. Sembari makan jagung bakar dan menikmati sepoi-sepoi angin malam, seperti biasa dia membelai pipiku. Tapi, entah kenapa tiba-tiba tangannya meminta hal yang lebih tanpa seizinku. Berkeliaran. Dengan cepat segera kusingkirkan tangannya.
Aku segera meninggalkannya, tapi tanganku sudah terkunci dalam genggamannya yang lebih kuat. Aku meronta-ronta, memohon kepada Tuhan agar aku tidak diapa-apakan olehnya. Oh, Cinta, mengapa kau melakukan ini padaku?
“Sayang, selama ini kita kan tak pernah bersenang-senang lebih. Jadi, nikmati saja malam ini berdua. Aku ingin selanjutnya kita bisa lebih langgeng lagi.“
Aku meronta semakin kuat dan mencoba melepaskan tangannya. Sungguh, aku tak pernah tahu bahwa dia memiliki niatan buruk. Rupanya selama ini, ia hanya memanfaatkan perasaan cintaku dan menunggu saat yang tepat untuk melampiaskan nafsunya. Bukan, cintaku bukanlah seperti yang dimilikinya.
Hingga kemudian, angin yang sangat kencang datang menolongku. Dia oleng dari tempatnya berdiri dan tercebur ke laut. Aku bersyukur dan cepat-cepat lari dari sana. Aku tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang kulewati. Hanya saja aku menangis dalam hati. Mencoba melupakan malam menakutkan sepanjang hidupku itu.
Tahukah kau, aku hanya bertanya-tanya pada diriku sendiri. Salahkah aku jika aku tetap merasakan gelombang-gelombang cinta itu padanya? Salahkah aku masih memelihara cinta ini walaupun baginya makna cinta itu sendiri telah bias?
Aku hanyalah siswi kelas 1 SMA yang masih bimbang antara realistis dan perasaan. Jika kau menjadi diriku, sudah pasti kau akan mendepaknya jauh-jauh dari kehidupan normalmu sebagai remaja yang selalu penuh motivasi dan semangat positif. Kau pasti akan memubuangnya ke tong sampah hatimu yang tak akan pernah kau lirik lagi.
Tapi aku melakukan hal yang berbeda dari kebanyakan orang. Aku memilih akan memberikan kesempatan padanya berkali-kali dan berdoa kepada Tuhan agar Ia menunjukkan hidayah-Nya pada Cintaku. Konyol memang, namun inilah refleksi dari janji setia yang pernah kuucapkan padanya. Aku ingin selalu memberikannya kesempatan. Karena aku percaya, suatu saat ia akan berubah dan memanggilku kembali menjadi cinta sejatinya.
Tiba-tiba dia meneleponku. Cinta meneleponku, katanya ia kangen denganku. Kau tahu, aku berbunga-bunga tentu. Pikiranku kembali lagi menuju masa dua tahun silam, saat ia dan aku sedang asyik bercengkrama ria di tempat favorit kami.
“Sayang, aku ke rumahmu, ya? Tapi orang tuamu ada di rumah, kan?” suara renyah itu muncul lagi di seberang telepon yang kuangkat.
“Ada kok Cinta. Jadi, ke sini ya. Kutunggu kau! Hati-hati di jalan ya, Cintaku!“ jawabku dengan suara tak kalah merdu.
“Iya Sayang. Bye. Sampai ketemu di rumahmu.“ Aku mendengar bunyi klik, tanda telepon ditutup. Aku pun mempersiapkan diriku sewangi dan serapi mungkin, seperti pertama kali aku diajak kencan dengannya. Orang tuaku heran melihatku sangat sumringah hari itu. Padahal, di luar mendung sedang menggulung tebal.
“Dia mau ke sini, Yah!“ sahutku gembira. Aku duduk di ruang tamu sambil membaca-baca novel kesukaan kami berdua dan memutar ulang lagu My Love, bersenandung pelan. Gerimis turun perlahan, tapi tak lama kemudian gerimis yang permai itu diganti hujan yang sangat lebat. Butiran airnya tajam kurasa.
Aku mengkhawatirkannya. Aku takut Cintaku mengalami kejadian buruk. Di benakku sudah berseliweran adegan-adegan percintaan romantis di beberapa tayangan remaja yang akhirnya menimbulkan kematian bersama. Tidak. Aku tidak boleh berpikiran negatif. Cinta baik-baik saja.
Semilir angin sepoi-sepoi membelaiku. Mengirimkan kehangatan yang dalam. Aku merasa de javu dengan angin ini. Pikiranku kembali ke Cinta. Ada apa gerangan dengan Cinta? Tidak. Cinta baik-baik saja. Kembali kuafirmasi otakku yang sudah panik setengah mati gara-gara angin semilir tadi.
Masih kutunggu kedatangan Cinta. Ini sudah 1 jam. Mestinya ia sudah sampai di sini. Harusnya ia sudah duduk di sini dan minum kopi hangat buatanku.
“Mungkin karena hujan.“ Tak lama setelah aku mengucapkan itu, Ibu memanggilku. Raut wajah beliau agak bersedih. Otakku tahu bahwa ada yang tidak beres. Ini pasti berhubungan dengan Cinta.
“Sabar ya, Nak. Dia mengalami kecelakaan di jalan.“
“Bu, benarkah itu? Dia baik-baik saja kan, Bu? Bu? Jawab Bu!“ aku menangis sesenggukan di pelukan Ibuku yang sangat mulia ini. Aku berdoa agar Cinta baik-baik saja. Agar kelak, ia bisa menemaniku sepanjang hayat, ia bisa menghiburku di tempat terindah ketika aku sedih, dan bersama-sama membangun rumah tangga yang penuh kerahmatan dari-Nya.
Aku masih melantunkan doa ketika kulihat di pintu sebuah bayangan mendekat. Aku langsung menghampiri bayangan itu. Dan seperti yang kulihat, bayangan itu nyata. Dia membawa Cintaku yang tersenyum gembira melihatku.
“Sayang, aku datang kan? Terima kasih sudah menunggu. Tapi aku tidak bisa lama-lama. Maaf ya, Sayang!” senyumnya seteduh malaikat. Cintaku kini telah berubah. Aku yakin, ia telah mendapat hidayah-Nya.
“Iya, Cinta. Terima kasih juga karena sudah memenuhi janjimu. Cinta mau ke mana?” aku refleks bertanya. Jujur, ketika Cinta datang di hadapanku, aku seakan lupa berita yang dibawa Ibuku tentang Cinta. Cinta baik-baik saja.
“Aku mau pergi ke sebuah tempat yang damai, Sayang. Dia inilah yang akan menjadi penuntun jalanku selama aku dalam perjalanan itu. Aku di sini ingin berpamitan padamu. Semoga kau mengikhlaskanku pergi ya Sayang! Satu hal yang harus kauingat, aku akan membangunkan rumah di sana untukmu. Dan aku akan terus menunggumu. Aku tidak pernah lupa tentang janji kita dua tahun yang lalu. Selamat jalan, Sayang.“ Kata-katanya menenangkan hatiku. Lambat laun, aku melihat mereka berdua pergi. Entah ke mana mereka. Tapi yang jelas, hujan yang deras kini berubah menjadi pelangi begitu sosok mereka menghilang dari pandanganku.
Ya, kini Cinta telah pergi ke alam lain. Entah kenapa kepanikan yang melandaku tadi sudah tak berefek apapun. Aku sudah mengikhlaskan Cintaku pergi. Biarkan dia merasa tenteram dan semoga Tuhan mengasihinya dengan kasih dan cinta-Nya yang melebihi cintaku. Ibu memelukku. Tapi aku tersenyum, membuat Ibu heran.
“Ibu, dia ada di tempat yang terbaik. Ibu jangan takut. Dia baru saja berpamitan denganku.“
Cinta, janji setia itu masih ada dan melekat bagaikan lem di hatiku. Tunggu aku, Cinta. Aku percaya dengan semua janjimu.
Tuhan, aku menyadari, inilah yang terbaik untuk kami. Daripada kami terus melakukan hal-hal yang akan membahayakan kami berdua. Ridhoilah cinta kami. Perkenankanlah kami merajut sebuah ikatan suci kelak di alam sana. Amin.
----------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------
Kado dalam Neraka
“Aaaaa…. Chibooooo…. Bismillah. “ bibir Sari komat-komit menyebut nama Allah agar dia selamat sampai tujuan. Tangannya yang berkeringat tak lepas dari pinggang Chibo, sang ketua rombongan. Semakin erat, semakin rapat ketika bau harum bunga dan minyak kemenyan bertebaran menusuk hidungnya. Sabrina di belakangnya apalagi.
Sepertinya keputusan Sari untuk masuk ke Rumah Sakit Hantu salah. Sebaiknya tadi dia batal saja ke sini dan ikut anak-anak foto-foto di depan Tanjung Kodok. Pasti bagus. Daripada di sini, dipenuhi hantu yang bergelantungan di sana-sini. Melayang-layang di atas kepalanya beserta rombongannya yang hanya beranggotakan 4 orang; Chibo, dirinya, Sabrina, dan Gopal.
Shrekk. Syuut. Wooshh. Hihihihihihihihihihihihi...
“Bukan rek, nggak ada apa-apa lho. Lihat depan saja lah. Sab, Sari? Itu cuma suara!”
“Gopaaal… udah deh ya, kamu diem aja. Bismillah, bismillah. Ya Allah tuluuungg! Selamatkan hamba-Mu Ya Allah... Keluarkanlah aku dari sini.“ Ratap Sabrina setengah putus asa. Dia sama sekali tak berani membuka matanya dan fokus ke jalan yang ditapakinya. Bau-bau itu membuatnya pusing. Kepalanya pening.
“Hei kawan... Lihatlah plang di atas kalian dan baca. Hayo apa bacanya?“ Chibo menimbrung di percakapan mereka. Tampaknya, kali ini nyalinya tidak sebesar tadi, karena dia sudah kelelahan memandu ketiga temannya itu. Untung ada Gopal yang selalu menyemangatinya. Meski dalam seperti telepati, tapi rasa cinta Gopal terasa dan menembus relung hati Chibo.
“Kamar Mayat!“ Gopal menyahut santai tanpa rasa takut. Padahal di sekelilingnya dipenuhi mayat-mayat yang mengerikan. Mukanya rusak, kakinya patah berdarah-darah, selang infus yang patah, bahkan ada yang setengah berjalan ke arah mereka. Untungnya, seperti ada tali yang menahannya tetap di sana. Belum lagi suara bayi yang baru dilahirkan tapi langsung bertransformasi menjadi tuyul. Sari dan Sabrina sudah tak bisa berpikir normal lagi.
- -
“Bom, kejutannya sudah siap?“ tanya Anya, cowok asli Jawa tapi berperawakan orang Eropa, putih, tinggi, dan lumayan tampan. Soal mengapa namanya jadi Anya, itu hanyalah kependekan dari Zefanya.
“Santai! Aku sudah bilang ke Mas-nya yang jaga, sebaiknya kejutan itu disimpan di sebelah boneka kolor ijo di dasar neraka aja. O iya, kita semua ke sana 5 menit lagi. Sekarang mereka berempat masih kebingungan di kamar mayat. Sepertinya Gopal belum bisa menghandle mereka.“ Bom menyahut.
Mereka semua tersenyum bangga dengan ide Dani yang dicetuskan beberapa hari sebelum berangkat. Ya, hari itu LASER yang kependekan dari kelas Sepuluh Sembilan Pemimpin Peradaban, ingin memberikan hadiah ulang tahun yang sangat memorable kepada si super pendiam, Sari. Mereka ingin sekali-sekali Sari berteriak lepas dan bebas seperti Meta dan Lina, yang dijuluki speaker kelas.
Dan LASER On Vacation adalah momen yang pas untuk mengejutkan Sari dengan sesuatu yang spektakuler, yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Mereka sudah menyiapkan satu barang yang diidam-idamkan Sari sejak lama, sebuah kamera digital. Berarti, tempatnya juga harus spesial dan bertolak belakang dengan tempat favorit Sari. Di jurang neraka Rumah Sakit Hantu.
“He, nanti pakai ini ya. Kemarin aku sudah mendesainnya sendiri lho. Agar akting ktia lebih meyakinkan. Banu, siapkan kameramu!” kata Rahma sambil membagi-bagikan jubah bertudung warna hitam dan kacamata ala terminator plus topeng zombie. Sempurna! Kini penampilan mereka ala Voldemort dan koloninya.
- -
Suhu ruangan tiba-tiba pengap dan mendadak semua lampu padam. Mereka berempat terhenyak dan berhenti sejenak. Sari merasakan gerakan lembut di kakinya yang berlapis kaos kaki tipis warna kulit, ia geli sekaligus takut.
“Rek, hati-hati ya. Kita sedang melewati jembatan yang permukaannya sempit dan licin. Jadi, tetap berpegangan satu sama lain. Aku nggak ingin ada yang jatuh di sini.” Chibo mewanti-wanti ketiga pasukannya. Di dalam hati dia sudah tertawa duluan karena rencana jahil itu akan segera terlaksana.
“Huwaaa… Chibo jangan gitu dong. Haduh, jadi tambah takut nih. Ini ruang apa sih, kok pengap begini.” Sabrina berteriak.
“Neraka.” Sekali lagi Gopal menyahut enteng.
Kurang dari semenit Gopal telah menyelesaikan kata-katanya, mendadak Sari terjun bebas ke dalam jurang dan berteriak sekencang-kencangnya. Chibo dan Gopal pura-pura panik dan ikut-ikutan berteriak. Sabrina asli panik dan lebih mengerikan teriakannya.
“Sari.... Sari.... Kamu di mana?“ Gopal memanggil Sari.
“Hhh... Aaaaaarghhhhhh..... Aku di mana ini? Aku di mana? Chibooooo, Saaaab, Paaaalll.... tolong dong! Hei kalian, aku di bawah sini! Aaarrghhh... apa ini? Ya Allah, tolong aku Ya Allah.“ Sari kalang kabut mencari pegangan. Ruangan itu gelap sekali. Otaknya tak bisa berpikir jernih. Dan ketika sel batang di matanya telah terbiasa dengan kegelapan di sekelilingnya, sosok hijau itu tertangkap basah sedang mengilat-ngilatkan sesuatu pada Sari.
“Bo, gimana? Sekarang kita bergabung dengan anak-anak kan?“ kata Sabrina mulai santai. Ia baru ingat kalau hari ini adalah ulang tahun Sari yang ke-16. Ia juga lupa LASER akan memberikan sebuah kejutan spektakuler untuk Sari.
“Ok, Shab. Kamu nggak usah takut lagi. Aktingmu bagus kok!“
“Lhoh, itu nyata takut beneran. Bukan akting!“
“Makanya Shab. Please deh, ini cuma mainan. Coba sentuh aja pocong yang lagi loncat di tempat itu. Kain doang kok isinya.”
“Ayo cepat! Aku di SMS Bom,” Gopal setengah berlari menyeret Chibo dan Shabrina.
- -
“Aaaaaarghh….” Belum sempat Sari bernafas, puluhan makhluk berjubah hitam dan tertutup topeng mengerikan berjalan perlahan ke arah Sari. Ia semakin merapat mencari tembok terdekat, tapi yang disandarinya ternyata adalah sepasang pengantin cacat yang berlumuran darah di sekujur tubuhnya. Tapi 16% akal sehatnya masih berbicara bahwa sekarang ia hanyalah sedang di sebuah wahana di tempat rekreasi.
“Nggak. Ini beneran. Ini nyata. Aku pasti nggak salah lihat. Aarghh… tolong… tolong…. Maaasssnyaaa…. Bukain pintu dong. Tolong aku! Siapa saja, tolong!!!” tenggorokannya seakan tak bisa berteriak lagi. Ia kehilangan kata-kata. Jantungnya susah diatur, dag-dig-dug-der. Nafasnya tercekat, air matanya menetes satu demi satu. Sementara makhluk-makhluk itu semakin dekat, hanya berjarak 1 meter di depannya. Dan sorot sosok hijau itu berkilat setajam silet. Memburu dirinya.
Berdoa. Ya. Dzikir. Asmaul Husna. Doa dunia akhirat. Doa makan. Doa bangun tidur. Doa masuk WC. Ayat Kursi. Sari membaca semua doa-doa dan surat pendek yang ia hafal sambil sesenggukan.
“Kok nggak mempan?”
Kletak, suara itu terdengar tiba-tiba. “Aww” berlanjut dengan suara misterius dari salah satu anggota kelompok jubah hitam itu berhasil membuat mereka menghentikan penyerangan selama beberapa menit. Bukannya malah diam, Sari tambah menangis lebih keras dari sebelumnya. Dalam pikirannya sudah terlukis kata-kata : mati konyol, ditanyain Malaikat, dan menunggu di Padang Mahsyar.
“Ya Allah… dosa hamba-Mu ini masih banyak. Ya Allah, aku ingin tobat. Aku pernah nyolong uangnya Mama, aku pernah melukai semut di dinding, aku pernah nyontek, aku pernah nyogok orang, aku pernah....“ Sari pun pasrah, kini nyawanya di ujung tanduk. Tapi,...
“Happy birthday to you.... Happy birthday to you... Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you.” Lantunan ucapan selamat ulang tahun semakin lama semakin menggema di dalam ruangan yang kelam itu. Tak lama kemudian, blitz kamera sedikit menerangi ruangan. Para cewek memeluk Sari erat-erat, menghapus air mata di pipinya, dan memberikan satu kejutan dan para cowok menyalami tangannya.
“Sst. Udah Sar… ini kami. Happy Sweet Sixteen, Sari! Semoga kamu tambah cantik, pinter, dan nggak terus-terusan masang tampang serius. Kami pingin kamu lebih ceria sama kami! Ok Sar? Ayo kalo gitu, foto dulu dong!” Disa cuap-cuap duluan.
Semua langsung pasang aksi terkeren mereka, kecuali Sari yang masih bermuka sembab, tapi sebisa mungkin ia tersenyum. Dan lebih spesialnya lagi, teman-teman sekelasnya memberikan hadiah yang sangat dramatis sekali.
“Makasih ya LASER! Kalian benar-benar tak tergantikan! Makasih buat semuanya yang telah mendukungku selama ini. Ngomong-ngomong, ide buat ngasih aku hadiah di alam neraka siapa nih?“ semuanya menunjuk Dani.
“O ya udah. Semoga besok-besok nggak masuk neraka ya, Dan!“
“Ok, Laser... toast!“ Chibo memberikan komando selaku ketua kelas.
“Alhamdulillahirobbil ‘alamin, Bismillahirrahmaanirrahiim. Lasso* – Lasso – Lasso – Lasso – Lasso – Lasso – Lasso – Lasso – Lasso – SUKSES!“
Entah kenapa ketika pintu keluar sudah di depan mata, mereka mendengar….
Hihihihihihihihihihihihihihi… Hihihihihihihihihihihihi
“Waaaaaaaaa…. Ayo keluar!”
Lasso : Laskar Songo; salah satu generasi di SMAN 5 Surabaya.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Lebaran Tanpa Bapak
Gema takbir di seluruh Indonesia bersahut-sahutan. Ramadhan telah melepaskan buaiannya dari kaum mukminin. Orang-orang banyak yang turun ke jalan, menggemakan asma Allah, penuh dengan keagunganNya. Kembang api berpendar-pendar, langit pun berbintang tak terhalang awan. Penabuh bedug berlomba menjadi yang paling perkasa dalam melodi bedugnya. Belum lagi mobil pickup yang sengaja disewa warga untuk takbiran keliling kampung.
“Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Laa illa ha Illallah... hu Allahu Akbar. Allahu Akbar, walillahil hamdu,” itu suara dari musholla sebelah barat rumah yang terletak sejauh 100 meter jauhnya.
“Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Laa illa ha Illallah... hu Allahu Akbar. Allahu Akbar, walillahil hamdu,” dua menit kemudian, masjid Al-Hidayatullah di sebelah timur rumah menyaingi dengan lafadz yang sama.
Begitu agungnya malam itu, hingga tak seorang warga kampung Munchis pun tidur. Laki-laki, perempuan, tua, muda, tak mau ketinggalan dengan kedatangan malam kemenangan yang dirindukan oleh berjuta umat Muslim itu. Walaupun puasa terseok-seok, tetapi yang penting ketika Idul Fitri tiba, mereka harus menyambutnya dengan sukacita.
Sanak saudara berkumpul di rumah, menikmati waktu-waktunya yang sempit bersama keluarga tercinta. Senyum tak pernah lepas dan cerita pun bersambung-sambung. Walau makanan yang terhidang sangat terbatas, tapi silaturahmi tetaplah menjadi bagian terindah dari mozaik-mozaik Lebaran.
“Itu Lebaran yang dulu,“ jawab May tak peduli.
“May, banyak anak di luar sana yang tak ketemu Bapaknya,” timpal Ibu sambil sesekali mengusap kepala May. Suaminya masih menunggu di luar rumah bercat putih ini, menunggu izin darinya dan May. Ia tahu, tak mudah bagi May menerima kesalahan Bapaknya. “Memalukan, Bu. Malu May punya Bapak seperti dia!” kata May suatu hari saat mengetahui Bapak ditangkap Polisi setempat.
Ibu menghela nafas. “May, Ibu mohon. Sekali ini saja, izinkan Bapak berkumpul dengan kita lagi,“ pintanya diiringi wajah memelas kepada May. Sedetik kemudian, May tak tega melihat Ibunya memohon hingga seperti itu. Pertahanan hatinya sedikit goyah. Tapi, kesalahan Bapak tak dapat kumaafkan.
“Maaf, Bu. May harus keluar sebentar. Jangan cari May. May janji akan pulang sebelum jam 12 malam,” ia pun membuka pintu belakang rumah. May tak mau melihat dan terlihat Bapak. Dua tahun yang lalu ia rasa sudah cukup untuk menampakkan dirinya, tepat di depan Bapak dan beberapa Polisi.
May terus berjalan menelusuri lekuk kampung Munchis. Melewati rumah-rumah tanpa lampu seterang rumahnya dengan canda dan tawa menjelang hari nan fitri besok. Kemudian ia belok kiri dan memandang masjid Al-Hidayatullah. “Di sini, dulu Bapak dan Ibu bertemu pertama kali ketika kami sama-sama menjadi panitia zakat. Hingga beberapa tahun kemudian, kami menikah,” entah mengapa kata-kata Bapak muncul di kegalauan perasaannya. Ditambah wajah Bapak yang selalu tersenyum saat ia menceritakan kejadian itu padanya.
-Haruskah May memaafkan Bapak? Setelah Bapak menyakiti hati Ibu yang sangat rapuh?
+Tapi, bagaimanapun, dia tetaplah Bapakmu. Kau mau jadi anak durhaka, May? Kalau puasamu tak diterima di sisiNya, percuma kau puasa kemarin! Kau tahu kan, kalau Allah hanya menerima puasa orang-orang yang meminta maaf kepada kedua orang tuanya?
-Hei May, pikirkan perasaan Ibumu yang sudah menjadi korban kebrutalan Bapak. Ibu mencintai Bapak lebih dari apapun, May. Ingat itu! Pantaskah Bapak melukai hati Ibu sedemikian rupa?
+May, tolong dengarkan hatimu yang paling dalam. Ikuti ia. Jangan terlalu terburu-buru May. Tidak ada Bapak, kau juga tak ada di sini. Menikmati malam-malam Lebaran di kampung penuh cinta ini.
Pergolakan-pergolakan itu muncul. May frustasi dan memilih duduk di poskamling yang terletak di samping masjid. May tak peduli dengan pandangan orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Bahkan, beberapa menawarinya makan dan minum karena kondisinya yang kacau.
“Kamu yakin tidak apa-apa, Nak?“ seorang nenek yang prihatin atas kondisinya menghampirinya. “Ini, ambil ini ya,“ kata nenek itu sambil menyerahkan sebungkus roti cokelat dan air mineral. May menolaknya. “Tidak. Ambil saja. Itu buatmu. Assalamu’alaikum,” tak lama kemudian nenek itu pergi.
“Terima kasih, Nek. Wa’alaikumsalam,” jawab May pelan.
Matanya masih menerawang menembus gelap di depannya. Takbir masih berkumandang, bedug juga makin keras suaranya. Semua perdebatan hati itu perlahan luntur mendengarkan keagunganNya. Ialah Sang Penguasa Hati, Maha Pembolak-balik Hati manusia. Maka dengan namaNya pula hati May seakan tunduk kepada penciptaNya.
Kakinya bergoyang-goyang seperti menendang sesuatu. Sementara itu May sedikit menyerah dengan kenyataan. Mencoba berdamai lebih tepatnya. “Apakah Allah mengujiku?“ tanyanya pada diri sendiri.
“May!“ suara Hylla mengagetkannya. May melirik dan memperhatikan penampilan Hylla.
“Baru lagi?” tanya May dengan raut muka datar.
“Iya. Ini aku baru dibelikan Ayahku lho! Eh, kamu kenapa di sini sendirian? Biasanya kamu ikut ke masjid membagi zakat.“ Hylla pun duduk di samping May. Yang tidak May sadari adalah Hylla tak seceria biasanya.
May menghela nafas, terdiam.
“May? Ada masalah lagi?“ bujuk Hylla. May masih diam. “Hei, May! Jawab aku. Cerita saja.”
“Kenapa ya La, Bapakku tega bermain dengan perempuan lain saat Ibuku susah-susah cari tambahan uang untuk keluarga kami? Aku tak bisa membayangkan La, bagaimana seandainya aku yang jadi Ibu. Pasti aku akan langsung mengusirnya dan tidak memedulikan ia lagi.” kata May berapi-api. Gelora masa 16 tahunnya di dunia memicunya. Setan mulai beraksi lagi menguasai hatinya yang sedikit luluh.
Hylla tersenyum. “May, itu karena kau belum menemukan orang yang benar-benar kau cintai.“
“Maksudmu?“ May dibuat penasaran dengan jawaban Hylla.
“Ya, itu karena kamu masih belum benar-benar mencintai seseorang. Aku yakin, Ibumu sangat mencintai Bapakmu. Bagaimanapun ia bersikap, atau bagaimanapun keadaannya. Yang perlu kau tahu, dalam cinta sejati itu selalu ada kesempatan. Tak peduli seberapa banyak ia bersalah, selalu ada kata maaf untuk orang yang benar-benar kau cintai. Setidaknya itulah pendapatku mengenai orang tuamu,“ jawaban Hylla mencengangkan May.
Sekarang ganti Hylla yang menghela nafas panjang. “Oh ya May, aku juga ingin cerita. Boleh, kan?”
“Ceritalah. Aku masih di sini kok.” jawab May.
“Aku sedih May, hari ini Ayahku tak diizinkan pulang lagi oleh bosnya. Kata bosnya, Ayah wajib menjaga pertokoan malam ini. Karena itulah Ayah hanya bisa mengirim baju ini dan beberapa jajanan lewat kantor pos.” Hylla menangis sesenggukan. May pun memeluk Hylla, berharap pelukannya sedikit menenangkan Hylla.
“Sssh… Ayahmu pasti pulang kok. Mungkin bukan hari ini, tetapi percayalah Ayahmu juga kangen denganmu dan keluarga kalian. Sabar ya,“ hibur May sebisanya.
“May, sejak setiap Lebaran 5 tahun yang lalu, Ayahku tidak pernah pulang! Entah kenapa bosnya selalu meminta Ayah untuk menjaga pertokoan ketika takbir berkumandang di mana-mana. Ayah hanya diizinkan pulang ketika hari-hari biasa, di luar Lebaran! Itu pun hanya sekali setahun.“ lanjut Hylla emosi.
“Kita semua sama-sama tahu, kalau Lebaran adalah satu momen yang membahagiakan untuk keluarga. Aku iri melihat anak-anak di sini yang didampingi ayah mereka. Lebaran tahun ini, lagi-lagi aku harus puas hanya dengan Ibu dan kedua adikku. Ada yang kurang May. Aku kangen Ayah,” seketika Hylla mulai menangis kembali dan ia bersandar di bahu May.
May terus mencoba menenangkan Hylla. Membantu mengusap air matanya. Tetapi kata-kata Hylla terngiang dalam pikiran May. Aku iri melihat anak-anak di sini yang didampingi ayah mereka. Kalimat itu terus mengganggu May. Hingga May tersentak apa maksud kalimat itu selalu merecoki dirinya. Ia harus pulang! Ia tidak ingin menyia-nyiakan Lebaran tahun ini berlalu tanpa Bapak. Ia tak ingin dicap sebagai anak durhaka. Tiba-tiba, air mata tumpah dari sudut mata May.
Rasa kangen itu mulai menyergapnya. Ia teringat saat-saat Lebaran beberapa tahun silam–sebelum Bapak diseret polisi–seluruh keluarganya pada malam yang agung ini saling berbagi cerita. Pandangan mesra Bapak dan Ibunya yang akhirnya menular sebagai semangat kebersamaan mereka.
“La, tenanglah. Maaf, aku harus pulang. Ada keperluan sebentar,“ May segera beranjak ketika yakin Hylla sudah baik-baik saja. Ia berlari melewati rumah-rumah penduduk. Ia ingin segera memeluk Bapak. Ia ingin Bapak bercerita lagi tentang awal pertemuannya dengan Ibu. Ia ingin senyum Bapak. Dan tentu saja ia akan meminta maaf sebesar-besarnya kepada Bapak.
Begitu sampai May tertegun di depan rumahnya. May bingung kenapa seluruh keluarga besarnya sudah ada di sini. “Lebarannya kan baru esok hari?” tanyanya kepada diri sendiri. Firasatnya buruk. Semilir angin terasa janggal di seluruh tubuhnya. Ia berjalan perlahan mencapai pintu rumahnya.
Ibu yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu langsung memeluk May. “Bu, ada apa? Mana Bapak?”
“Ikut Ibu, May. Bapak ada di kamar, ia menunggumu dari tadi.” Ibu berusaha keras agar tak menangis di depan May.
Di kamar utama itu, May melihat Bapaknya terbaring lemah. Matanya sudah setengah tertutup. Bersiap menemui ajalnya. May langsung duduk bersimpuh di depan Bapak. May ditemani Ibu dan seluruh keluarganya.
“Ini May, Pak.” May berusaha tegar. Ia tahu ia tak boleh menangis di saat Bapak seperti ini. Kalau ia menangis, Bapak akan semakin tersiksa. “Bapak, maafkan May ya. May sudah kasar dengan Bapak. May pernah tidak percaya dengan Bapak,” air mata yang ia tahan tumpah di atas pipi keriput Bapak. May merasa sangat menyesal. Kenapa dari tadi ia tidak membolehkan Bapak masuk dan menikmati saat-saat terakhir bersamanya.
Di sudut mata kiri Bapak, setitik air mata tumpah. May semakin ingin menangis saat itu juga. Rasanya tak tertahankan. Ia tahu, Bapaknya sudah memaafkannya.
“M-May, Ba-Ba-pak m-m-min-ta m-ma-a-af y-ya.” suara Bapak terputus-putus. Tanpa ragu, May mengangguk. Ia ikhlas memaafkan semua kesalahan Bapak. Bagi May, yang penting sekarang Bapak sudah benar-benar bertobat. Itu saja sudah cukup.
“Pak, ikuti May. Asyhadu alla ilaa ha Illallah…Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah…” May terus mengulang dua kalimat syahadat di samping telinga Bapak. Ia ingin ketika Bapak menemui Sang Pencipta, hanya rahmatNya yang selalu mendampingi kepergiannya. Ibu pun membantu Bapak mengucapkan kedua kalimat syahadat. Ketika masjid Al-Hidayatullah mengumandangkan takbir tepat pada kalimat Laa ila ha Illallah, ketika itu juga Bapak dibawa pergi malaikat maut.
May dan Ibunya menangis tersedu, mengeluarkan semua air mata yang telah mereka tahan agar Bapak tak disiksa terlalu berat. Seluruh keluarga membantu mereka menguatkan diri dan segera mengurus segala sesuatu untuk merawat jenazah Bapak.
“May, terima kasih karena sudah mau memaafkan Bapakmu,” kata Ibu begitu mereka hanya bertiga dengan almarhum Bapak. Sekali lagi Ibu mencium kening almarhum Bapak untuk terakhir kalinya.
“Bu, bagaimanapun juga almarhum Bapak adalah Bapakku. Tadi ada seseorang yang berkata padaku bahwa,” kalimat May menggantung.
“Dalam cinta sejati itu selalu ada kesempatan, tak peduli berapa kali kesalahan yang kaubuat. Dan selalu ada maaf untuk orang yang benar-benar kau cintai.“ kata Ibu tanpa melepaskan pandangannya dari almarhum Bapak. May pun memeluk Ibundanya tercinta.
Malam yang agung itu, dipenuhi takbir yang menyesakkan jiwa dan raga. Sedikit kenangan indah dengan anggota keluarga tercinta dan seulas senyum dalam duka. May rasa itulah Lebaran terindahnya. Walaupun ia harus kehilangan salah seorang yang mulai benar-benar dicintainya, tetapi ia tetap merasakan cinta itu ada dan abadi. Seperti cinta Sang Pencipta dengan seluruh hambaNya pada malam itu.
--------------------------------------------------------------------------
Cemol
Juni 2010
“Ih, nama kok ya Cemol? Ibumu dulu ngidam apa sih? Kok bisa-bisanya memberi nama Cemol pada anaknya sendiri.” Ratih melirik Cemol dengan tatapan tidak suka. Tapi, Cemol sedang asyik mengutak-atik isi tulisannya yang akan dikirim ke redaksi koran ternama di Indonesia.
Cemol hanya menimpali, ”Hmm? Memangnya jelek ya?” Tanpa ambil pusing ia segera melanjutkan acara pengetikannya. Ratih hanya membatin dalam hati, kenapa si Cemol santai saja menghadapi sindiran setengah pedas itu.
Bel istirahat berdering, Cemol bergegas ke perpustakaan untuk mencari bahan-bahan penyusun artikelnya. Segerombolan cowok kelas XI mulai beraksi ketika ia melewati kantin.
“Cemol… Apa singkatannya?” Tanya salah seorang dari gerombolan itu. Koor panjang langsung menjawab beserta tawa ejekan,”Cewek Matre Dodol. Hahahahaha…”
Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Cemol tetap berjalan santai di depan mereka. Baginya, nama ‘Cemol’ memang sudah menjadi olok-olok teman-temannya. Jadi, yang ia lakukan adalah ia tak perlu ambil pusing dalam hal ini. Nanti juga mereka akan tahu sendiri apa yang akan dilakukannya sebulan ke depan.
Pertengahan Juni 2010
“Sambutlah, pemenang utama kita, Cemol dari SMA Negeri 5 Surabaya! Dia berhasil melukiskan betapa kuat persaudaraan antara Maroko dan Indonesia. Karena itulah, Duta Besar Maroko untuk Indonesia akan memberikan paket perjalanan Indonesia-Maroko selama satu minggu! Selamat ya…!” MC Adi Nugroho menyalami Cemol serta mempersilahkan Duta Besar Maroko untuk menganugerahi sang pemenang. Cemol tersenyum bahagia. Terbalas sudah jerih payahnya selama ini.
Juli 2010
“Hei… Cemol sudah pulang! Selamat datang, Sang Bintang! Bagaimana di sana? O iya, bawa oleh-oleh nggak?“ Ratih memberondong Cemol. “Ooh, ini. Aku bawakan kamu cokelat khas Maroko. Enak lho! Rasa-rasa kurma begitu, ada legitnya. Beda dengan cokelat Indonesia.”
“Kamu di sana ngapain?” Ratih mulai penasaran.
“Di sana, aku cuma main gitar.” Jawab Cemol santai.
“Nggak jalan-jalan ke mana-mana? Nggak wisata ke negara-negara di dekat sana? Ah, sayang sekali. Kamu itu bagaimana… Ckck,”
“Ratih, aku lebih suka main gitar di depan anak-anak jalanan di sana. Mereka itu lucu-lucu. Aku kasihan melihat mereka, jadi ingat di Indonesia. Ya aku menghibur mereka dengan cara seperti itu. Senang melihat mereka tertawa, meskipun aku tak mengerti ucapan mereka.” Sahut Cemol panjang lebar. Ratih melongo tak percaya. Ternyata, selama ini dia dan teman-temannya telah salah melihat Cemol.
“Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat. Seakan hidup ini, tak ada artinya lagi. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik. Jangan menyerah, jangan menyerah, jangan menyerah,” Cemol bersenandung pelan.
“Kau menyanyikan lagu itu di depan mereka?”
“Ya. Mereka suka dan bertepuk tangan. Betapa mereka menghargai musik Indonesia lebih dari kita.” Cemol segera beranjak menuju mejanya dan meninggalkan Ratih. Ia ingin menciptakan sebuah artikel lagi yang akan mengenalkan namanya pada dunia.
--------------------------------------------------------------------------