Mencintai Indonesia ekuivalen dengan mencintai diri sendiri. Di mana kaki berpijak untuk pertama kali, di sanalah siap untuk berbakti. Mencintai bukan hanya mengabdikan diri dalam kurun waktu tertentu. Tetapi mencintai menuntut pengorbanan sampai maut memanggil. Mencintai dengan efektif akan mengunci hati kita dari segala hal yang bertentangan dengan rasa itu sendiri. Mencintai Indonesia itu sederhana, tetapi tidak mudah. Dan kesederhanaan inilah yang akan membuat segalanya terlihat lebih mudah.
---
Kulihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati.
Air matamu berlinang, mas intanmu terkenang.
Hutan, gunung, sawah, lautan, simpanan kekayaan.
Kini ibu sedang susah, merintih dan berdo’a.
Lagu di atas sudah sering dinyanyikan ketika kita masih di TK dan SD. Tetapi begitu kita beranjak menjadi siswa SMP, rasa malu mulai tumbuh di hati kita. Terlebih ketika kita memasuki masa-masa SMA. Apabila mau jujur, rasa malu itu ada ketika guru kita menyuruh kita menyanyikan salah satu lagu-lagu nasional. Kita lebih memilih menyanyikan lagu-lagu pop masa kini yang dipopulerkan oleh band terkenal.
Kita memilih untuk lebih fokus mempelajari bahasa-bahasa asing dan meremehkan bahasa Indonesia. Menggampangkan pelajaran sejarah bangsa, kurang perhatian dengan pemanfaatan kondisi geografis negara Indonesia (seluas 1.910.931,32 km2), lemah dalam sosiologi masyarakat Indonesia, dan tidak tahu menahu perkara perekonomian bangsa. Tetapi untuk masalah hukum, kita seakan-akan bersaing untuk menjadi yang paling berkuasa. Dengan tujuan menyamaratakan kedudukan di depan hukum. Sedangkan orang Indonesia begitu banyak ahli teknologi, dokter, dan ilmuwan yang ujung-ujungnya Padahal, perkembangan suatu bangsa ditentukan oleh keseimbangan perpaduan kelima aspek tersebut, bukan menonjolkan salah satunya (Sulistyaningsih, 2011).
Lagu Ibu Pertiwi bercerita secara gamblang tentang kondisi Indonesia saat ini. Seakan ketika menulis lirik lagu Ibu Pertiwi penciptanya sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan Indonesia di masa depan. Tetapi, seakan masih ada harapan, pengarang Ibu Pertiwi masih menuliskan bait berikutnya:
Kulihat Ibu Pertiwi, kami datang berbakti.
Lihatlah putra-putrimu, menggembirakan Ibu.
Ibu kami tetap cinta, putramu yang setia,
Menjaga harta pusaka untuk nusa dan bangsa.
Lihatlah lirik di atas, begitu optimis, begitu yakin atas usahanya menggembirakan bangsa ini. Terselip rasa cinta yang diungkapkan di sana, meskipun kondisi Indonesia sedang ricuh, kacau, banyak kekerasan dan penyalahgunaan wewenang (M.Rouz, 2011). Tetapi sang pengarang masih yakin, maka cinta itu tak akan terhalangi.
Begitu pula yang akan penulis ungkapkan di sini. Rasa cinta itu tetap ada untuk Indonesia. Karena penulis yakin, di tengah kondisi Indonesia yang ‘sepertinya’ buruk, masih ada mutiara-mutiara di Indonesia yang belum dikembangkan. Terutama dari generasi muda sendiri. Seperti jumlah entrepreneur di Indonesia yang makin bertambah, sekitar 0,18% dan terus bertambah. Serta itikad baik dari pemerintah yang dibuktikan dengan berkurangnya tingkat kemiskinan sekitar 1-2 % per tahun, adanya ketegasan dalam penindakan kriminalitas, dan pengembangan yang dilakukan pemerintah di berbagai daerah tertinggal.
Seperti konsep awal, mencintai itu sederhana. Tetapi mencintai memang tidak mudah. Karena itulah, salah satu cara untuk mencintai Indonesia sangatlah sederhana: menulis. Menulis apapun yang mengajak masyarakat Indonesia sadar akan keeksistensian bangsanya. Menulis apapun yang bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia. Tidak perlu berat, karena penulis ingin merangkul semua pembaca di Indonesia. Tidak perlu tergesa-gesa, karena proses menulis membutuhkan kekonsistenan dan pembelajaran yang kontinu. Termasuk esai yang penulis buat ini, adalah salah satu cara penulis mencintai Indonesia.
Karena hanya dengan rangkaian kata-kata, untuk sementara ini penulis mampu memberikan kontribusi pada Indonesia. Penulis mempunyai target untuk ke depannya, apa yang selama ini hanya ada di kertas, akan terlaksana dalam masyarakat. Jika selama ini penulis hanya mampu untuk berkontribusi melalui sekolah dan organisasi di sekitar lingkungan, tetapi di masa depan semua itu berkembang ke arah yang lebih besar.
Dibalik proses penulisan, tentunya seorang penulis melibatkan data yang memaparkan kondisi Indonesia saat ini. Dari sana timbul suatu kemirisan melihat kondisi Indonesia. Kemudian berbagai data, fakta, dan opini tersebut digabung menjadi satu. Hingga kemudian sebuah tulisan yang akan menjadi calon-calon kebijakan pemerintah terbentuk.
Penulis akui, merangkai kata-kata tidak mudah tetapi sederhana. Kesederhanaan inilah yang menjadi langkah awal penulis dalam mencintai Indonesia. Lambat laun, penulis menyadari semakin banyak data yang terbaca, semakin banyak tulisan yang dihasilkan, rasa patriotisme itu tumbuh dengan sendirinya. Efeknya sekarang merembet ke segala aspek dalam keseharian penulis. Contoh: menggunakan nomor telepon selular asli dari Indonesia, semakin cinta membeli novel karya orang-orang Indonesia, mengisi blog dengan bahasa Indonesia, rajin menggeluti seluk-beluk bahasa Indonesia, serta sering mengunjungi pameran-pameran seni dan budaya yang berasal dari Indonesia.
Semua itu berawal dari sebuah tulisan dan sebuah kesederhaan. Karena cinta sesederhana itu. Membuat sesuatu yang mustahil menjadi sangat mungkin dilakukan.
Daftar Pustaka :
BPS.2011.Katalog BPS: Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi
Indonesia.Jakarta:BPS.
Rouz, Mohammad.2011.SOLUSI PROBLEMATIKA INDONESIA Sebuah Kajian
Menggugah Semangat Nasionalis Anak Bangsa.www.wikipedia.com
No comments:
Post a Comment