Apa yang membuat aku menuliskan semua pikiran-pikiran yang berseliweran di kepalaku? Apa yang membuatku mengalirkan semua kata-kataku di layar komputer semalaman suntuk? Jawabannya hanyalah satu, aku ingin pergi ke luar negeri dan membuktikan kepada Mama bahwa anak tersayangnya ini bisa mapan dengan menjadi penulis.
Aku bukanlah seseorang yang pandai bercerita di depan kelas, aku bukanlah orang yang pandai memecahkan masalah ilmiah dengan segudang percobaan rumit, dan aku bukanlah orang yang suka memecahkan sekelumit logika matematika dengan rumus-rumus kompleks. Lalu, apakah caraku untuk menatap dunia? Dengan satu cara, menulis.
Menulis bagiku, merupakan hal-hal yang tidak boleh ditinggalkan. Dengan menulis, aku bisa menceritakan siapa sebenarnya diriku dan apa yang aku pikirkan. Karena aku adalah anak yang agak tertutup dan agak kesulitan memulai pembicaraan dengan orang lain. Dengan kata lain adalah aku orang yang agak kesulitan berkomunikasi verbal. Tapi jika aku diperbolehkan menulis hanya untuk mengenalkan diriku, aku pasti lebih memilih menuliskan beruntai-untai kata daripada harus berdiri di depan dan memperkenalkan diri.
Kini, aku adalah siswi SMA Negeri 5 Surabaya yang mencoba mengoptimalkan kemampuan menulisnya. Di sekolah aku mengikuti ektrakurikuler Joer-V di bidang jurnalistik. Sejak awal masuk SMA, aku sudah berminat dalam dunia tulis-menulis dan ingin menjadi penulis profesional yang tentu saja membutuhkan banyak latihan yang memadai.
Sampai-sampai ketika jam kosong pun, aku mengisi waktu luangku dengan menulis esai, karya ilmiah, cerpen, atau novel. Untuk ke depannya, aku memang berniat menjadi penulis novel dan essay. Namun, untuk tahap awal, aku harus mencoba segala jenis tulisan.
Aku menambah pengetahuan dan motivasi menulisku dengan mengikuti berbagai pelatihan dan seminar di mana-mana. Terakhir, aku mengikuti seminar di ITS yang diisi oleh Mbak Asma Nadia dan Mas Boim Lebon. Meskipun seminar itu cukup menguras uang (padahal Cuma tiga puluh ribu rupiah saja), tapi tetap kuikuti. Tahu tujuan awalku ikut seminar? Yaitu mendapatkan tanda tangan dan berfoto dengan Asma Nadia dan Boim Lebon. Alhamdulillah, ternyata selain aku mendapatkan tanda tangan plus foto, aku juga mendapatkan ilmu dan motivasi-motivasi yang sangat menumbuhkan atmosfer kepenulisanku.
Dari cerita-cerita Mbak Asma Nadia yang berhasil pergi ke luar negeri dan mengetahui kondisi-kondisi asing di luar sana, aku tambah semangat menulis. Karena tujuanku menulis adalah bisa pergi ke luar negeri dan menatap dunia lain (luar negeri maksudnya).
Aku pun memiliki pengalaman tulisanku ditolak oleh media. Rasanya kecewa sekali. Itu jelas. Apalagi, waktu itu adalah pengumpulan karya pertamaku di harian Kompas. Ketika aku tahu kalau cerpenku dikembalikan (meskipun dengan balasan yang sopan), tetap saja aku kecewa. Aku langsung patah semangat dan tak ingin lagi membuat cerpen atau apapun. Namun anehnya beberapa hari kemudian, aku tambah keranjingan menulis sesuatu. Bisa puisi, cerpen (biasanya belum selesai) dan curhatan di diary pribadiku. Tiba-tiba, aku pun mengakui dan semakin mengembangkan hobiku agar menjadi sesuatu yang berguna. Di masa SMA, aku mengikuti ACSENT dan ekskul jurnalistik untuk lebih mengasah bakatku lagi.
Lagipula, menurutku dengan menjadi penulis, kita akan mengukirkan sejarah dengan tulisan yang kita buat. Jadi walaupun jasad sudah tertanam dalam tanah, tulisan kita masih ada yang membacanya dan kita pun akan senantiasa diingat oleh orang lain. Ya paling tidak orang lain mau mengakui bahwa itu adalah hasil karya kita.
Dengan menulis, aku menjadi diriku sendiri.
No comments:
Post a Comment