Monday, November 28, 2011

Membaca dan Bukalah Jendela Dunia



            Buku adalah sumber pengetahuan yang paling mudah ditemukan di manapun. entah itu di rumah, di mal, di pasar, bahkan di pelosok-pelosok sekalipun. Buku adalah jendela dunia. Ungkapan itu sudah lama diucapkan, namun sekarang peran buku di tengah masyarakat sudah tak seberapa terlihat. Padahal, jika dilihat di beberapa toko buku, banyak penulis Indonesia yang menghasilkan buku-buku berkualitas, seperti Andrea Hirata, Habiburrahman El-Shirazy, A. Fuadi dan penulis lain yang sukses besar dengan karyanya. Buku sudah digantikan internet, e-book, PDA, dan teknologi canggih lainnya yang berfungsi sebagai pemasok informasi terupdate.
            Selain itu, mal-mal yang semakin menjamur membuat para orang tua lebih senang mengajak anak-anaknya ke sana daripada ke perpustakaan. Di samping itu, globalisasi telah mengambil sebagian besar waktu yang harus mereka luangkan untuk menemani anak-anak mereka belajar, membacakan dongeng, dan mendengarkan cerita dari anak-anak itu. Sehingga akan terjadi disintegrasi keluarga yang akhirnya menyebabkan masalah sosial, seperti kasus narkoba dan free sex.
            Sebenarnya dampak lain dari kurangnya orang tua membagi waktu mereka untuk membacakan cerita pada anak-anaknya, menyebabkan anak-anak itu anti pada kegiatan membaca buku saat mereka remaja kelak. Karena sesuai dengan konsep sosiologis bahwa pada umur tersebut, anak-anak meniru perilaku orang tuanya dan akhirnya akan membentuk kepribadiannya. Mereka pun akan cenderung pergi ke mal, berperilaku konsumtif, jarang membaca buku, dan lebih suka duduk berlama-lama di depan playstation.
            Kemudian, bagaimana dengan anak-anak yang ada di daerah pelosok? Beberapa media massa saat perayaan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei selalu menayangkan fenomena suku terpelosok yang ada di Indonesia. Seperti Suku Asmat dan Suku Dani yang kini telah merasakan manisnya pendidikan di Indonesia dan bahkan ada di antara mereka yang bisa melejitkan Indonesia di dunia internasional. Walaupun untuk menikmati sekolah, mereka harus berlari 5 km jauhnya, melewati sungai yang deras dan hutan. Tetapi mereka semangat. Mereka semangat membaca buku pelajaran yang mungkin telah basah oleh air sungai, menuliskan setiap ilmu baru yang didapatkan hari itu, atau apapun. Apakah hal itu tak membuat kita malu apabila kita yang hidup dengan fasilitas memadai, buku referensi yang lengkap, dan akses internet yang lancar.
            Terlebih lagi, terdapat beberapa penelitian yang membuktikan bahwa kesadaran membaca masyarakat Indonesia masih rendah. Berikut adalah daftar penelitian yang membuktikan rendahnya masyarakat Indonesia.
·         Berdasarkan  studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Posisi Indonesia itu lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan.
·        Berdasarkan data CSM, di Amerika Serikat jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.
·        Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur dan 34, 5 % masyarakat Indonesia masih buta huruf berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD).
Berbagai penelitian itu sudah tidak diragukan lagi kredibilitasnya. Inilah fakta bahwa masyarakat Indonesia kurang membaca. Padahal, menurut pakar perkembangan anak-anak yang sejak lahir diajak berkomunikasi dan dibacakan cerita akan mempunyai kemampuan verbal lebih tinggi dibandingkan yang didiamkan saja. Selain itu, membaca bermanfaat untuk meningkatkan mental alertness, daya tangkap, kreativitas dan logika berpikir dan meningkatkan wawasan pengetahuan.  Membaca juga menanamkan nilai positif seperti rasa empati, solidaritas, toleransi dan tolong menolong.
Selama ini, pemerintah Indonesia khususnya Kementrian Pendidikan Nasional telah melakukan langkah yang cukup signifikan. Kemendiknas merencanakan akan mendirikan 561 Taman Bacaan Membaca di 23 mal di seluruh Indonesia hingga akhir tahun 2010. Namun program ini belum berfungsi secara optimal sesuai tujuan pemerintah Indonesia. Usaha pemerintah menciptakan perpustakaan keliling di seluruh Indonesia juga patut diacungi jempol. Namun mengapa masih banyak masyarakat Indonesia yang buta huruf?
Semua solusi pemerintah sudah cukup bagus, hanya saja pemerintah kurang sosialisasi terhadap masyarakat akan pentingnya membaca buku dan mengenal dunia yang lebih luas karena sekarang ini adalah zaman globalisasi. Untuk lebih mewujudkan visi dan misi pemerintah, sebenarnya pengenalan membaca yang dilakukan sejak dini dapat dilakukan dengan banyak cara, bukan hanya dengan mendirikan taman bacaan dan perpustakaan saja. Tapi pemerintah sendiri juga lebih aktif untuk mengajak masyarakat membaca buku.
Misalnya untuk anak-anak dan remaja, kegiatan membaca buku bisa disalurkan lewat rally game atau camp with book. Konsepnya adalah pengenalan buku menggunakan media game. Tujuannya adalah menciptakan image bahwa tidak selamanya membaca buku itu membosankan dan tak bermanfaat. Justru dengan membaca buku, imajinasi seseorang akan keluar.
Acara ini dapat diselenggarakan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip, organisasi- organisasi remaja yang bergerak di bidang pendidikan, serta pihak swasta yang juga ingin mengembangkan minat baca masyarakat. Kalau dimungkinkan, sebaiknya para pesertanya juga dari berbagai kalangan, baik itu kalangan bawah, menengah, dan kalangan atas. Karena hal ini untuk memupuk rasa solidaritas mereka dan menjadi pembelajaran bahwa mereka hidup dalam suatu keanekaragaman suku dan golongan yang menjadi satu, sehingga menimbulkan sikap saling menghargai. Tempat pelaksanaannya bisa di taman, di mall atau ruang terbuka lainnya.
Untuk pelaksanaan teknis, permainan ini dibagi menjadi beberapa pos sedangkan para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang anggotanya diacak. Di sini siapa cepat dia dapat. Artinya, setiap tim harus mendapatkan koin emas yang terdapat pada setiap pos yang mereka kunjungi.
Kemampuan membaca dan konsentrasi akan sangat dibutuhkan dalam setiap pos agar mereka berhasil membawa satu koin emas dari pos tersebut. Di pos terakhir akan tersimpan harta karun, yaitu sebuah hadiah yang akan didapatkan oleh tim yang bisa mencapai pos terakhir itu. Namun, pelaksanaan teknis ini adalah salah satu contohnya. Panitia penyelenggara dapat mengubah bentuk dari permainan itu sendiri asalkan jangan lepas dari tujuan utamanya, yaitu menumbuhkan kesadaran membaca pada anak-anak dan remaja.
Sedangkan bagi orang dewasa yang masih buta huruf, program yang dapat dilaksanakan adalah pelatihan kelas membaca yang menyenangkan di setiap RW. Kegiatan ini bisa rutin dilakukan tergantung kebijakan masing-masing Pemerintah Kota/Kabupaten setempat. Juga bisa dalam bentuk kegiatan seperti yang diaplikasikan pada para remaja namun lebih disesuaikan dengan aspek kehidupan mereka.
        Diharapkan dari program ini, para peserta dapat mengubah persepsi mereka tentang kegiatan membaca dan meningkatkan minat baca mereka. Jika program ini terus dilaksanakan secara berkesinambungan dan dilaksanakan oleh seluruh pihak, maka ini akan meningkatkan peringkat Indonesia dalam hal kesadaran membaca.

No comments: