Monday, November 28, 2011

Pesona Jilbab Sang Permata



Wanita. Makhluk yang dimuliakan oleh Allah, Rasulullah, dan juga Islam. Begitu mulianya wanita, sehingga ia dijaga oleh 4 lelaki; ayahnya, suaminya, saudara laki – lakinya, dan anak laki - lakinya. Wanita ibarat permata yang sangat berharga, karena alasan itulah Allah menurunkan firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Azhab ayat 59,
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri - istrimu, anak – anak perempuanmu, dan istri – istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (Q.S. Al-Azhab : 59).
Atas dasar itu, Rasulullah menyuruh para wanita untuk mengenakan jilbab. Sebenarnya, apa perngertian jilbab dan bagaimana cara memakai jilbab yang syar’i? Putri Rasulullah S.A.W, Fatimah Az-Zahra berkata kepada Asma’ binti Abu Bakar,
 “Wahai Asma’! Sesungguhnya aku memandang buruk apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang mengenakan baju yang dapat menggambarkan  tubuhnya.”
Ini berarti pemakaian jilbab yang benar adalah jilbab panjang yang menutupi tubuh bagian atas dan mengenakan pakaian yang longgar agar tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya. Karena yang demikian itu akan disenangi Allah dan dekat dengan surga Allah.
Namun, apa yang terjadi pada akhir – akhir ini? Banyak para muslimah yang mengenakan jilbab sebatas leher dan pakaian yang ketat untuk mengimbangi jilbabnya. Mereka mengenakan pakaian seperti itu karena terpengaruh mode masa kini. Para muslimah cenderung meniru artis – artis idola di televisi yang menggunakan jilbab pendek yang justru menampakkan lekuk – lekuk tubuhnya. Bahkan, banyak juga yang berani melepas jilbab mereka. Padahal, hal itu tidak dibenarkan dalam Al-Qur’an.
Ternyata benar yang dikatakan Rasulullah S.A.W,
Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita – wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah wanita yang terkutuk”
Di dalam hadits lain terdapat tambahan :
“Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.
Na’udzubillahimindzalik. Semoga Allah melindungi kita dari siksa Neraka Jahannam. Jadi, mulai sekarang sebaiknya para muslimah lebih memperhatikan lagi cara mereka berjilbab dan berpakaian. Jangan takut dianggap ketinggalan zaman atau tidak modis. Rok yang longgar, baju muslimah yang tidak ketat, tidak tipis, dan tidak memperlihatkan lekuk tubuh serta jilbab panjang adalah pakaian yang pantas bagi para muslimah. Insya Allah dengan berpakaian seperti itu, tidak akan ada lagi yang mengganggu.
Penerapan secara langsung dan instan tentu sulit diterapkan. Diperlukan cara – cara khusus untuk mengubah pemahaman para muslimah yang sudah mengikuti tren – tren masa kini. Yaitu dengan diadakannya tarbiyah yang menarik dengan membahas tentang cara berjilbab syar’i dan pengetahuan menjadi akhwat sejati secara rutin. Bahkan kalau perlu diadakan fashion show khusus akhwat. Dengan begitu mereka tahu contoh – contoh berpakaian dan berjilbab sesuai syari’ah.
Khususnya bagi para remaja muslimah yang ingin mengetahui lebih jauh tentang indahnya Islam. Maka dalam tarbiyah itulah kesempatan untuk memaparkan betapa Islam sangat memuliakan wanita dengan jilbabnya. Selain itu, juga ditekankan pula bahwa berjilbab tidak harus menjadikan dirinya sempurna dulu. Namun dengan berjilbab, mereka bisa belajar bagaimana agar bisa seperti Siti Khadijah, Aisyah, Fatimah Az-Zahra, dan wanita penghuni surga lainnya, serta dicintai Allah S.W.T. Amin.

Membaca dan Bukalah Jendela Dunia



            Buku adalah sumber pengetahuan yang paling mudah ditemukan di manapun. entah itu di rumah, di mal, di pasar, bahkan di pelosok-pelosok sekalipun. Buku adalah jendela dunia. Ungkapan itu sudah lama diucapkan, namun sekarang peran buku di tengah masyarakat sudah tak seberapa terlihat. Padahal, jika dilihat di beberapa toko buku, banyak penulis Indonesia yang menghasilkan buku-buku berkualitas, seperti Andrea Hirata, Habiburrahman El-Shirazy, A. Fuadi dan penulis lain yang sukses besar dengan karyanya. Buku sudah digantikan internet, e-book, PDA, dan teknologi canggih lainnya yang berfungsi sebagai pemasok informasi terupdate.
            Selain itu, mal-mal yang semakin menjamur membuat para orang tua lebih senang mengajak anak-anaknya ke sana daripada ke perpustakaan. Di samping itu, globalisasi telah mengambil sebagian besar waktu yang harus mereka luangkan untuk menemani anak-anak mereka belajar, membacakan dongeng, dan mendengarkan cerita dari anak-anak itu. Sehingga akan terjadi disintegrasi keluarga yang akhirnya menyebabkan masalah sosial, seperti kasus narkoba dan free sex.
            Sebenarnya dampak lain dari kurangnya orang tua membagi waktu mereka untuk membacakan cerita pada anak-anaknya, menyebabkan anak-anak itu anti pada kegiatan membaca buku saat mereka remaja kelak. Karena sesuai dengan konsep sosiologis bahwa pada umur tersebut, anak-anak meniru perilaku orang tuanya dan akhirnya akan membentuk kepribadiannya. Mereka pun akan cenderung pergi ke mal, berperilaku konsumtif, jarang membaca buku, dan lebih suka duduk berlama-lama di depan playstation.
            Kemudian, bagaimana dengan anak-anak yang ada di daerah pelosok? Beberapa media massa saat perayaan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei selalu menayangkan fenomena suku terpelosok yang ada di Indonesia. Seperti Suku Asmat dan Suku Dani yang kini telah merasakan manisnya pendidikan di Indonesia dan bahkan ada di antara mereka yang bisa melejitkan Indonesia di dunia internasional. Walaupun untuk menikmati sekolah, mereka harus berlari 5 km jauhnya, melewati sungai yang deras dan hutan. Tetapi mereka semangat. Mereka semangat membaca buku pelajaran yang mungkin telah basah oleh air sungai, menuliskan setiap ilmu baru yang didapatkan hari itu, atau apapun. Apakah hal itu tak membuat kita malu apabila kita yang hidup dengan fasilitas memadai, buku referensi yang lengkap, dan akses internet yang lancar.
            Terlebih lagi, terdapat beberapa penelitian yang membuktikan bahwa kesadaran membaca masyarakat Indonesia masih rendah. Berikut adalah daftar penelitian yang membuktikan rendahnya masyarakat Indonesia.
·         Berdasarkan  studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Posisi Indonesia itu lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan.
·        Berdasarkan data CSM, di Amerika Serikat jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.
·        Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur dan 34, 5 % masyarakat Indonesia masih buta huruf berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD).
Berbagai penelitian itu sudah tidak diragukan lagi kredibilitasnya. Inilah fakta bahwa masyarakat Indonesia kurang membaca. Padahal, menurut pakar perkembangan anak-anak yang sejak lahir diajak berkomunikasi dan dibacakan cerita akan mempunyai kemampuan verbal lebih tinggi dibandingkan yang didiamkan saja. Selain itu, membaca bermanfaat untuk meningkatkan mental alertness, daya tangkap, kreativitas dan logika berpikir dan meningkatkan wawasan pengetahuan.  Membaca juga menanamkan nilai positif seperti rasa empati, solidaritas, toleransi dan tolong menolong.
Selama ini, pemerintah Indonesia khususnya Kementrian Pendidikan Nasional telah melakukan langkah yang cukup signifikan. Kemendiknas merencanakan akan mendirikan 561 Taman Bacaan Membaca di 23 mal di seluruh Indonesia hingga akhir tahun 2010. Namun program ini belum berfungsi secara optimal sesuai tujuan pemerintah Indonesia. Usaha pemerintah menciptakan perpustakaan keliling di seluruh Indonesia juga patut diacungi jempol. Namun mengapa masih banyak masyarakat Indonesia yang buta huruf?
Semua solusi pemerintah sudah cukup bagus, hanya saja pemerintah kurang sosialisasi terhadap masyarakat akan pentingnya membaca buku dan mengenal dunia yang lebih luas karena sekarang ini adalah zaman globalisasi. Untuk lebih mewujudkan visi dan misi pemerintah, sebenarnya pengenalan membaca yang dilakukan sejak dini dapat dilakukan dengan banyak cara, bukan hanya dengan mendirikan taman bacaan dan perpustakaan saja. Tapi pemerintah sendiri juga lebih aktif untuk mengajak masyarakat membaca buku.
Misalnya untuk anak-anak dan remaja, kegiatan membaca buku bisa disalurkan lewat rally game atau camp with book. Konsepnya adalah pengenalan buku menggunakan media game. Tujuannya adalah menciptakan image bahwa tidak selamanya membaca buku itu membosankan dan tak bermanfaat. Justru dengan membaca buku, imajinasi seseorang akan keluar.
Acara ini dapat diselenggarakan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip, organisasi- organisasi remaja yang bergerak di bidang pendidikan, serta pihak swasta yang juga ingin mengembangkan minat baca masyarakat. Kalau dimungkinkan, sebaiknya para pesertanya juga dari berbagai kalangan, baik itu kalangan bawah, menengah, dan kalangan atas. Karena hal ini untuk memupuk rasa solidaritas mereka dan menjadi pembelajaran bahwa mereka hidup dalam suatu keanekaragaman suku dan golongan yang menjadi satu, sehingga menimbulkan sikap saling menghargai. Tempat pelaksanaannya bisa di taman, di mall atau ruang terbuka lainnya.
Untuk pelaksanaan teknis, permainan ini dibagi menjadi beberapa pos sedangkan para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang anggotanya diacak. Di sini siapa cepat dia dapat. Artinya, setiap tim harus mendapatkan koin emas yang terdapat pada setiap pos yang mereka kunjungi.
Kemampuan membaca dan konsentrasi akan sangat dibutuhkan dalam setiap pos agar mereka berhasil membawa satu koin emas dari pos tersebut. Di pos terakhir akan tersimpan harta karun, yaitu sebuah hadiah yang akan didapatkan oleh tim yang bisa mencapai pos terakhir itu. Namun, pelaksanaan teknis ini adalah salah satu contohnya. Panitia penyelenggara dapat mengubah bentuk dari permainan itu sendiri asalkan jangan lepas dari tujuan utamanya, yaitu menumbuhkan kesadaran membaca pada anak-anak dan remaja.
Sedangkan bagi orang dewasa yang masih buta huruf, program yang dapat dilaksanakan adalah pelatihan kelas membaca yang menyenangkan di setiap RW. Kegiatan ini bisa rutin dilakukan tergantung kebijakan masing-masing Pemerintah Kota/Kabupaten setempat. Juga bisa dalam bentuk kegiatan seperti yang diaplikasikan pada para remaja namun lebih disesuaikan dengan aspek kehidupan mereka.
        Diharapkan dari program ini, para peserta dapat mengubah persepsi mereka tentang kegiatan membaca dan meningkatkan minat baca mereka. Jika program ini terus dilaksanakan secara berkesinambungan dan dilaksanakan oleh seluruh pihak, maka ini akan meningkatkan peringkat Indonesia dalam hal kesadaran membaca.

Ludruk cs Mall



            Surabaya memiliki satu kesenian tradisional yang hingga kini semakin habis peminatnya. Bahkan, bisa dikatakan langka; baik untuk pemainnya maupun penontonnya. Jika tidak ada usaha dari generasi muda untuk melestarikannya, budaya yang satu ini bisa-bisa punah. Dan, kebudayaan itu adalah seni ludruk.
            Awalnya, ludruk hanyalah seni jalanan yang menyuguhkan parodi kisah sehari-hari. Ludruk diprovokatori oleh Pak Santik, petani dari Desa Ceweng, Kecamatan Gudo, Jombang. Beliau bersama kedua temannya menjelajahi berbagai kota di Jawa Timur dengan melawak. Tidak hanya lawakan, namun juga syair-syair Jawa Timuran. Di setiap episodenya, mereka bertiga mencoba menyuguhkan kisah-kisah ‘akar rumput’ yang akrab dengan masyarakat. Sehingga, masyarakat pun banyak yang tertarik dengan seni pertunjukan ini. Hingga ketika sampai di Surabaya, mereka mulai mendirikan perkumpulan yang diberi nama ludruk.
Terdapat berbagai makna dari kata ludruk. Menurut penelitian Sadi Hutomo, menurut kamus Javanansch Nederduitssch Woordenboek karya Gencke dan T. Roorda tahun 1847, ludruk dapat berarti Grappermaker (badutan). Selain itu, ada pula yang mengartikan ludruk sebagai penari wanita dan badhut. Atau bisa disebut sebagai pelawak yang terdapat pada karya WJS Poerwadarminta (BPE Sastra tahun 1930).
            Ludruk pun bertransformasi menjadi ciri khas masyarakat Surabaya. Berbagai unsur yang terdapat di dalamnya, seperti cerita, dialog, kostum, dan kelengkapan lainnya disesuaikan dengan budaya masyarakat Surabaya.
Dialog, misalnya. Para pemain selalu menggunakan bahasa asli Surabaya yang cenderung blak-blakan, spontan, dan segar. Hal ini dilakukan agar para penonton lebih mudah menikmati adegan-adegan ludruk. Meskipun bahasanya asli Surabaya, tidak akan ada kata-kata yang tidak sopan. Format penampilan pun mulai ditambah dengan hadirnya tari Ngremo sebagai pembuka ludruk. Bahkan diselingi dengan kidung campursari. Sebuah ide kreatif yang luar biasa dari masyarakat kecil agar dapat menghibur sekaligus memenuhi kebutuhan hidup.
Kurang lebih 15 hingga 20 tahun yang lalu, ludruk sangat populer di kalangan masyarakat Surabaya. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya masyarakat Surabaya yang menyuguhkan ludruk sebagai acara hiburan ketika ada pernikahan, khitanan, atau acara-acara dalam tradisi masyarakat Jawa.
            Bahkan, ketika itu tempat pertunjukan ludruk tidak pernah sepi dari pengunjung. Tawaran dari masyarakat untuk naik panggung di acara mereka pun tak pernah habis. Sehingga ada sebuah pemeo : “Orang Surabaya kalau tak punya uang, tak akan mengundang grup ludruk di acaranya.“ Hal ini menunjukkan bahwa ludruk sedang dalam masa-masa emas. Berikutnya, muncullah grup ludruk ternama, seperti Kartolo cs, Loedroek Tjap Tugu Pahlawan, Ludruk Irama Budaya dan berbagai komunitas pemain ludruk lainnya.
            Itu zaman dulu. Sekarang, setelah masuknya arus globalisasi, seakan-akan identitas bangsa juga ikut tergerus. Bahkan, penerus pemimpin perjuangan bangsa, alias para pemuda Surabaya, sudah tidak peduli lagi dengan kesenian tradisional ini. Masyarakat pun lebih senang menghadirkan grup musik dangdut untuk menggantikan ludruk.
            Penulis pernah mewawancarai salah seorang pemain ludruk Irama Budaya yang masih bertahan di tengah hiruk pikuk publik Surabaya. Ironisnya, markas ludruk Irama Budaya ini terletak di belakang mal THR, tersembunyi di tempat kumuh dan banyak sampah. Jika masyarakat tidak jeli menjelajah lebih jauh ke dalam, mereka tidak akan bisa menemukan markas budaya asli Surabaya itu.
Beliau berkata bahwa pertunjukan-pertunjukan yang diadakan, dihadiri tidak lebih dari 5 hingga 10 orang. Padahal, harga tiketnya Rp 2.500, 00. Kalau ada yang menonton, mayoritas adalah generasi tua yang dulu sempat berada di zaman keemasan ludruk. Sayangnya, generasi muda hanya segelintir orang.
            Hal ini membuat para pejuang ludruk mencari pekerjaan sampingan, seperti tukang sapu, perias pengantin, dan berjualan minuman di depan Mal THR. Tidur pun hanya di emperan gedung yang dulunya pernah menjadi gedung pusat kebudayaan di Surabaya. Berbagai usaha telah mereka lakukan demi kontinuitas ludruk. Mencoba menggugah Pemerintah sudah pernah mereka lakukan, pun promosi melalui jejaring sosial seperti Facebook,dan Twitter bisa dibilang gencar.
            Kabar baiknya ternyata masih ada generasi muda Surabaya dari beberapa sekolah yang ikut meramaikan pentas seni tradisional itu. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak para pemain ludruk senior yang telah dilatih oleh orang tua mereka. Namun, ada juga teman-teman mereka yang tertarik dan akhirnya ikut menjadi penerus pemain ludruk Irama Budaya. Yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa sebagian besar dari kawula muda Surabaya lebih menikmati suguhan ala Barat? Tidak bisakah kita mencontoh anak-anak itu?
            Sebagai kaum terpelajar sekaligus generasi muda Surabaya, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah merekonstruksi ludruk. Di sini bukan berarti merombak segala kekhasan ludruk. Hanya saja mungkin memodifikasi beberapa unsurnya. Seperti naskah cerita dan tempat pementasan. Karena keberhasilan suatu pementasan seni juga bergantung pada kedua hal di atas.
            Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membentuk grup ludruk atau mengadakan kerja sama (kolaborasi) antara pelajar dengan pemain ludruk profesional. Setelah kerjasama tersebut berlangsung, maka dimulailah proses perencanaan cerita yang akan ditampilkan.
            Misalnya jika biasanya, kisah-kisah ludruk yang ditampilkan hanyalah cerita rakyat biasa, untuk pendobrakan awal bisa menggunakan cerita Sudjiwo Tedjo. Beliau dikenal mengisi kolom untuk cerita parodi pewayangan di salah satu surat kabar terkemuka di Indonesia. Cerita-cerita beliau mampu menggugah pikiran dan sesuai dengan kondisi saat ini. Uniknya, tokoh yang beliau gunakan adalah para lakon pewayangan, seperti Punakawan, Prabu Kresna, dan kawan-kawannya.
            Cerita tersebut mengandung kekocakan dosis tinggi. Di mana, kekocakan tersebut sesuai dengan ciri khas ludruk yang sifatnya menghibur masyarakat. Sehingga di samping menghidupkan kisah-kisah tradisional, secara tidak langsung kita akan melestarikan dua kebudayaan : ludruk dan cerita pewayangan.
            Hal kedua yang perlu direkonstruksi adalah panggung yang akan digunakan. Jika selama ini hanya bertempat di gedung budaya, maka tempat yang penulis usulkan adalah di lobi sebuah mal terkenal di pusat kota. Atau jika mungkin terlalu mahal untuk menyewa sebuah lobi, di halaman mal pun tidak jadi masalah. Asalkan masih dalam lingkup mal yang sarat dengan keramaian pengunjung.
            Agar lebih meyakinkan, dapat didukung pula dengan hadirnya gamelan dan kidung di tengah-tengah pementasan ludruk. Kelengkapan properti seperti ini secara implisit akan mengobati masyarakat Surabaya yang rindu akan budaya tradisionalnya yang kian tergerus zaman.
            Selain itu, masih ada satu masalah yang sangat fatal. Yakni ketersediaan dana untuk mendukung kontinuitas pementasan ludruk. Panitia sekaligus pemain harus mencari dukungan dana dari lembaga-lembaga maupun masyarakat yang masih peduli terhadap nasib budaya bangsa. Bila dimungkinkan, mereka juga harus bisa mencari dana dari Pemerintah, terutama dari Komite Kebudayaan. Tentunya semua itu harus dilandasi dengan keikhlasan dan selalu berpikir positif. Karena pemikiran yang negatif tak akan pernah menghasilkan kesuksesan.
            Saat ini di Surabaya, beberapa institusi pendidikan tingkat menengah maupun universitas ada yang membuka ekstrakurikuler ludruk sebagai usaha untuk melestarikannya. Dan hal ini patut untuk mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat Indonesia. Penulis berharap generasi sekarang dan yang akan datang akan semakin mencintai ludruk, mencintai produk asli bangsa Indonesia.
Berbagai usaha di atas diharapkan dapat melestarikan salah satu seni khas Surabaya, yaitu ludruk. Karena seni tradisional adalah salah satu identitas yang akan memberi label sebuah tempat. Karena warisan nenek moyang adalah warna bagi kehidupan modern. Agar kehidupan masyarakat Surabaya tidak hanya diwarnai dengan hedonisme, mal, dan segala hal yang kebarat-baratan. Tapi juga ada nilai-nilai budaya ketimuran yang tetap akan menjadi jati diri bangsa Indonesia, di Surabaya khususnya.

Entrepreneur: Kunci Pemuda Mengorbitkan Bangsa



            Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh seberapa bagus mentalitas pemudanya untuk menjadi bangsa yang lebih baik. Peran pemuda yang disebut-sebut sebagai tonggak penerus kehidupan bangsa, tentu saja menjadi suatu hal yang vital. Terutama jika peran pemuda ini dikaitkan dengan fungsi finansial yang mendukung pembangunan di segala sektor.
            Nantinya, peran merekalah yang akan menjadikan asas kemandirian berekonomi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju. Bukannya malah membuat Indonesia tetap menjadi negara berkembang.
Sementara itu, dalam berita terbaru yang dilansir oleh Bank Dunia berdasarkan pengamatan Enrique Blanco Armas, Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4%. Bahkan angka bisa terus meningkat menjadi 7%. Namun, suatu pemikiran pesimis justru datang dari ekonom utama Bank Dunia, Subham Chaudhuri, bahwa ekonomi Indonesia hanya mengalami kenaikan 6,2% selama tahun 2011. Itu pun dengan syarat infrastruktur Indonesia harus diperbaiki terlebih dahulu.
Tidak hanya itu, setiap tahun lulusan sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan, rata-rata mengalami peningkatan 20%. Fenomena ini menimbulkan akibat yang malah memperburuk ekonomi Indonesia. Yakni banyaknya masyarakat berusia produktif yang belum mandiri. Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa bidang yang mereka pelajari di perkuliahanlah yang sangat menentukan masa depan mereka. Termasuk urusan pekerjaan yang akan mereka dapatkan. Pemikiran yang sempit ini akhirnya membuat penyesalan berkepanjangan.
Padahal jika para pemuda Indonesia –yang disebut-sebut sebagai subyek utama pembangunan– sedikit berinovasi dari produk yang telah ada, maka langkah kecil dari mereka bisa mengembangkan perekonomian Indonesia secara signifikan. Dibuktikan dengan survei Bank Dunia tahun 2010 yang menempatkan faktor inovasi (45%) sebagai urutan pertama, disusul networking (25%), teknologi (20%), dan sumber daya (10%).
Kata inovasi erat kaitannya dengan konsep entrepreneurship. Konsep ini mengkombinasikan berbagai faktor input dengan inovasi untuk menghasilkan nilai bagi konsumen dengan harapan menciptakan kemakmuran. Dan Indonesia masih memiliki pengusaha entrepreneur sebesar 0,18% dari total penduduk Indonesia. Angka yang masih sangat jauh dari standar pengusaha entrepreneur di negara-negara maju, yakni 2% dari keseluruhan penduduk. Sementara negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, dan Singapura memiliki tingkat entrepreneurship lebih dari 7% tahun ini (Global Entrepreneur Moneter, 2010).
Penyebab Indonesia masih menjadi negara berkembang juga disebabkan mayoritas pemudanya masih belum bisa memproduksi barang yang diinginkan konsumen Indonesia. Kita hanya bisa memasarkan, bukan membuat barang tersebut. Kita lebih memilih barang jadi dengan tingkat aksesibilitas tinggi dan tidak mau bersusah payah memproduksi. Kalaupun ada, masih sebatas skala usaha kecil dan menengah, bukan sebagai usaha skala besar dan nasional.
Berbagai alasan yang sebenarnya tidak perlu dirisaukan terlalu dibesar-besarkan. Sebagai contoh, faktor pengolahan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang susah. Istilah lainnya bangsa kita terlalu apatis dan takut menghadapi persaingan yang ada. Pola pikir seperti ini wajib dihapus melalui berbagai cara. Walaupun hasilnya belum bisa terlihat di waktu yang singkat.
Menjadi bangsa yang mandiri memang sulit. Di berbagai negara maju sekarang, mereka memulai semuanya dari nol. Mereka berusaha memandirikan pemudanya dengan berbagai peluang yang ada. Mereka melatih para pemudanya sejak kecil dengan cara bersikap skeptis positif demi suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Awalnya mungkin tidak berorientasi di bidang ekonomi. Tetapi ketika pemuda itu mulai beranjak dewasa dan berhubungan langsung dengan sistem finansial, sikap skeptis tersebut melahirkan sebuah inovasi kreatif yang sangat menguntungkan.
Tidak bisakah kita mencontoh dari bangsa-bangsa yang pernah menjajah kita? Setidaknya pengaruh positif zaman penjajahan kompeni masih bisa kita tiru di zaman ini. Lantas, apa yang bisa kita tiru?
Lembaga perdagangan independen VOC bisa dijadikan contoh lembaga entrepreneur yang beromzet miliaran rupiah. Dengan komoditas utama rempah-rempah dan diselingin berbagai kebijakan serta hak Octrooi (hak istimewa dari pemerintah Belanda), VOC sukses menguasai seluruh Indonesia. Sederhana saja sebenarnya konsep kerja VOC, mereka menyurvei rempah-rempah yang diinginkan konsumen, memproduksi, dan menjualnya dengan harga tinggi. Sayangnya VOC memaksa rakyat Indonesia agar menanam komoditas rempah sesuai dengan target mereka. VOC pun mampu berdiri selama 198 tahun tanpa campur tangan pemerintah Belanda.
Sekali lagi, entrepreneur bisa dijadikan sebagai indikator maju atau tidaknya suatu negara. Karena entrepreneur minded selalu mengedepankan rasa percaya diri untuk mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk mencapai profit yang ditargetkan. Landasan kepercayaan diri merupakan invisible power untuk menetapkan langkah kebijakan yang berdampak positif bagi pembangunan bangsa ke arah developed nation.
Pemerintah menargetkan besarnya pengusaha entrepreneur akan meningkat menjadi 2% dalam jangka lima tahun ke depan. Itu juga kalau ada program dari pemerintah yang khusus menangani masalah pengembangan pengusaha entrepreneur. Kalau tidak? Apakah kita sebagai pemuda Indonesia hanya berdiam diri?
Salah satu caranya adalah membentuk suatu organisasi kepemudaan nasional yang fokus dengan masalah pengembangan entrepreneur di Indonesia. Organisasi semacam ini mampu menggerakkan para pemuda untuk benar-benar terjun dalam bidang entrepreneur. Akan lebih baik jika para entrepreneur muda ikut membina calon-calon yang berpotensial tersebut.
Bidang-bidang yang akan dibina tidak hanya kemampuan teknis, tetapi juga soft skill yang meliputi: motivasional, kestabilan emosi, dan penanaman nilai moral. Sementara pembinaan teknis meliputi: dasar-dasar entrepreneur, pengembangan usaha,  permodalan, dan praktek dalam skala kecil. Keseimbangan antara kedua hal tersebut sangat penting. Karena bisnis entrepreneur memiliki resiko tinggi, menciptakan kekayaan dalam waktu yang singkat, dan inovasi substansial yang lebih dari UKM.
Agar lebih efektif, organisasi ini tidak hanya melatih mereka yang sudah berstatus mahasiswa. Tetapi juga mulai dari siswa SMP dan SMA. Agar ketika masa studi mereka selesai, mereka bisa langsung membuka lapangan pekerjaan baru tanpa harus menunggu pemanggilan dari perusahaan-perusahaan yang mereka beri surat lamaran.
[1]BPS.2011.Booklet Agustus 2011.hlm 50
Pembentukan organisasi ini bertujuan untuk menciptakan generasi muda Indonesia yang mampu berpikir skeptis positif dengan kemandirian produksi. Tentu saja dengan cara menjadi pengusaha entrepreneur yang mampu bersaing di era global dan perdagangan internasional. Lagipula angkatan kerja Indonesia sekitar 119,40 juta[1]. Dengan kesungguhan pengurus organisasi tersebut serta memanfaatkan banyak sumber daya yang tersedia, tanpa menunggu lima tahun pun target 2% entrepreneur bisa tercapai.