Monday, December 19, 2011

Digasak, Diolah, Dipamerkan


            Pendopo besar SMAN 5 Surabaya tiba-tiba penuh dengan sampah dan barang bekas di hari pertama Cereal 2011, Senin (19/12). Barang-barang tersebut berasal dari sampah di lingkungan sekolah, seperti kardus mi instan, daun kering, botol bekas, majalah, dan kertas koran. Sebelas tim dari sebelas generasi menggasak tong sampah, kantin, bahkan sekitar kamar mandi demi mendapatkan bahan-bahan yang mereka perlukan dalam waktu tiga puluh menit. Dan dalam waktu empat puluh lima menit berikutnya mereka harus tuntas mendaur ulang bahan-bahan yang telah dikumpulkan.
            Lomba daur ulang rutin digelar setiap kali Smalane selesai menghadapi pekan UAS dan remidi. Biasanya digelar sepaket dengan Cereal (Creativity of Smalane) di semester ganjil dan Cemol (Class Meet of Smala) di semester genap yang bekerjasama dengan SS Greenish Smala. “Tujuannya untuk membangkitkan kepedulian Smalane akan lingkungan sekolah mereka, mengurangi sampah di Smala, dan meningkatkan kreativitas Smalane,“ komentar Ramitha Janira (XI IA 7) selaku panitia Cereal 2011 dan ketua SS Greenish yang menjadi pengawas selama lomba berlangsung.

DAUN:  Seorang peserta menghias botol dengan daun kering yang berjatuhan di halaman Smala
Tanpa membuang waktu, semua peserta langsung bekerja dengan cekatan ketika waktu dimulai. Ada yang memulai dengan menggunting botol, memotong kardus dan koran, atau merangkai daun-daun kering. Para suporter tiap generasi berkumpul di sekitar pendopo besar untuk menyemangati tim generasinya. Seperti yang dilakukan Haqqyana (XII IA 9), “Ayo Lasso!“ berteriak-teriak heboh menyemangati tim Lasso.

BUKA TUTUP: Sebuah rak majalah buatan tim Lasso dari kardus bekas dan kain.
Setiap tim beranggota tiga orang dari kelas X, XI, dan XII. Ini menyebabkan ada generasi yang menghasilkan lebih dari satu produk. Seperti generasi Axi 5, Lasso, Classix, dan Djitoe (lihat tabel). Dominasi produk peserta masih berkisar pada peralatan sekolah seperti tempat pensil dan pigura. Namun tidak menutupi adanya suatu produk baru. Seperti sandal dari kardus dan daun kering yang dibuat oleh tim Classix atau kipas daun dari tim Djitoe.
Penilaian hasil karya daur ulang tersebut berdasarkan kreativitas dan manfaatnya. “Bu Mei dan Pak Kus yang menilai ini nantinya,“ tambah Ramitha ketika ditanya siapa juri lomba daur ulang. Penilaian sekaligus pameran karya akan berlangsung hari Rabu (21/12) yang bertepatan dengan Green Day-nya Smala. Hari itu juga, JTV direncanakan datang meliput acara tersebut.
INOVASI: Tim Classix dengan sandal all sizenya dari kardus yang dilapisi mozaik daun.

PENGHIBUR GALAU: Tim Angels berniat menghibur kegalauan Smalane dengan karya mereka yang mengandalkan tali rafia dan botol bekas.

AYO SEKOLAH: Simply bag, solusi alternatif nan ramah lingkungan dari Generasi Ssosh bagi yang sudah bosan dengan model tasnya.
Dengan diadakannya lomba daur ulang ini, predikat Smala sebagai Eco School yang berorientasi terhadap pelestarian lingkungan hidup tak perlu dipertanyakan lagi. Smalane, yuk sukseskan program cinta lingkungan demi Smala yang nyaman, bersih, dan asri. (mbc)

Berikut ini adalah tabel produk dari setiap generasi:
Generasi
Produk
Genj1
Angels
B3ST
4team
Limo
Classix
Djitoe
Arspan
Lasso
Ssosh
AXI 5
Parsel Natal
Penghibur Galau
Kotak tisu
Tempat pensil cantik
Tempat pensil
Sandal daun beserta kotaknya
Kipas daun, celengan botol, dan countdown 2012
Papan pengumuman
Pigura dan rak majalah
Simply bag
Pigura, kotak mulifungsi, dan vas

           

Friday, December 16, 2011

Kesederhanaan Cinta

Mencintai Indonesia ekuivalen dengan mencintai diri sendiri. Di mana kaki berpijak untuk pertama kali, di sanalah siap untuk berbakti. Mencintai bukan hanya mengabdikan diri dalam kurun waktu tertentu. Tetapi mencintai menuntut pengorbanan sampai maut memanggil. Mencintai dengan efektif akan mengunci hati kita dari segala hal yang bertentangan dengan rasa itu sendiri. Mencintai Indonesia itu sederhana, tetapi tidak mudah. Dan kesederhanaan inilah yang akan membuat segalanya terlihat lebih mudah.
---
            Kulihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati.
Air matamu berlinang, mas intanmu terkenang.
Hutan, gunung, sawah, lautan, simpanan kekayaan.
Kini ibu sedang susah, merintih dan berdo’a.
Lagu di atas sudah sering dinyanyikan ketika kita masih di TK dan SD. Tetapi begitu kita beranjak menjadi siswa SMP, rasa malu mulai tumbuh di hati kita. Terlebih ketika kita memasuki masa-masa SMA. Apabila mau jujur, rasa malu itu ada ketika guru kita menyuruh kita menyanyikan salah satu lagu-lagu nasional. Kita lebih memilih menyanyikan lagu-lagu pop masa kini yang dipopulerkan oleh band terkenal.
Kita memilih untuk lebih fokus mempelajari bahasa-bahasa asing dan meremehkan bahasa Indonesia. Menggampangkan pelajaran sejarah bangsa, kurang perhatian dengan pemanfaatan kondisi geografis negara Indonesia (seluas 1.910.931,32 km2), lemah dalam sosiologi masyarakat Indonesia, dan tidak tahu menahu perkara perekonomian bangsa. Tetapi untuk masalah hukum, kita seakan-akan bersaing untuk menjadi yang paling berkuasa. Dengan tujuan menyamaratakan kedudukan di depan hukum. Sedangkan orang Indonesia begitu banyak ahli teknologi, dokter, dan ilmuwan yang ujung-ujungnya  Padahal, perkembangan suatu bangsa ditentukan oleh keseimbangan perpaduan kelima aspek tersebut, bukan menonjolkan salah satunya (Sulistyaningsih, 2011).
Lagu Ibu Pertiwi bercerita secara gamblang tentang kondisi Indonesia saat ini. Seakan ketika menulis lirik lagu Ibu Pertiwi penciptanya sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan Indonesia di masa depan. Tetapi, seakan masih ada harapan, pengarang Ibu Pertiwi masih menuliskan bait berikutnya:
Kulihat Ibu Pertiwi, kami datang berbakti.
Lihatlah putra-putrimu, menggembirakan Ibu.
Ibu kami tetap cinta, putramu yang setia,
Menjaga harta pusaka untuk nusa dan bangsa.
Lihatlah lirik di atas, begitu optimis, begitu yakin atas usahanya menggembirakan bangsa ini. Terselip rasa cinta yang diungkapkan di sana, meskipun kondisi Indonesia sedang ricuh, kacau, banyak kekerasan dan penyalahgunaan wewenang (M.Rouz, 2011). Tetapi sang pengarang masih yakin, maka cinta itu tak akan terhalangi.
Begitu pula yang akan penulis ungkapkan di sini. Rasa cinta itu tetap ada untuk Indonesia. Karena penulis yakin, di tengah kondisi Indonesia yang ‘sepertinya’ buruk, masih ada mutiara-mutiara di Indonesia yang belum dikembangkan. Terutama dari generasi muda sendiri. Seperti jumlah entrepreneur di Indonesia yang makin bertambah, sekitar 0,18% dan terus bertambah. Serta itikad baik dari pemerintah yang dibuktikan dengan berkurangnya tingkat kemiskinan sekitar 1-2 % per tahun, adanya ketegasan dalam penindakan kriminalitas, dan pengembangan yang dilakukan pemerintah di berbagai daerah tertinggal.
Seperti konsep awal, mencintai itu sederhana. Tetapi mencintai memang tidak mudah. Karena itulah, salah satu cara untuk mencintai Indonesia sangatlah sederhana: menulis. Menulis apapun yang mengajak masyarakat Indonesia sadar akan keeksistensian bangsanya. Menulis apapun yang bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia. Tidak perlu berat, karena penulis ingin merangkul semua pembaca di Indonesia. Tidak perlu tergesa-gesa, karena proses menulis membutuhkan kekonsistenan dan pembelajaran yang kontinu. Termasuk esai yang penulis buat ini, adalah salah satu cara penulis mencintai Indonesia.
Karena hanya dengan rangkaian kata-kata, untuk sementara ini penulis mampu memberikan kontribusi pada Indonesia. Penulis mempunyai target untuk ke depannya, apa yang selama ini hanya ada di kertas, akan terlaksana dalam masyarakat. Jika selama ini penulis hanya mampu untuk berkontribusi melalui sekolah dan organisasi di sekitar lingkungan, tetapi di masa depan semua itu berkembang ke arah yang lebih besar.
Dibalik proses penulisan, tentunya seorang penulis melibatkan data yang memaparkan kondisi Indonesia saat ini. Dari sana timbul suatu kemirisan melihat kondisi Indonesia. Kemudian berbagai data, fakta, dan opini tersebut digabung menjadi satu. Hingga kemudian sebuah tulisan yang akan menjadi calon-calon kebijakan pemerintah terbentuk.
Penulis akui, merangkai kata-kata tidak mudah tetapi sederhana. Kesederhanaan inilah yang menjadi langkah awal penulis dalam mencintai Indonesia. Lambat laun, penulis menyadari semakin banyak data yang terbaca, semakin banyak tulisan yang dihasilkan, rasa patriotisme itu tumbuh dengan sendirinya. Efeknya sekarang merembet ke segala aspek dalam keseharian penulis. Contoh: menggunakan nomor telepon selular asli dari Indonesia, semakin cinta membeli novel karya orang-orang Indonesia, mengisi blog dengan bahasa Indonesia, rajin menggeluti seluk-beluk bahasa Indonesia, serta sering mengunjungi pameran-pameran seni dan budaya yang berasal dari Indonesia.
Semua itu berawal dari sebuah tulisan dan sebuah kesederhaan. Karena cinta sesederhana itu. Membuat sesuatu yang mustahil menjadi sangat mungkin dilakukan.

Daftar Pustaka :
BPS.2011.Katalog BPS: Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi
Indonesia.Jakarta:BPS.
Rouz, Mohammad.2011.SOLUSI PROBLEMATIKA INDONESIA Sebuah Kajian  
Menggugah Semangat Nasionalis Anak Bangsa.www.wikipedia.com

Pengembalian HAM ODHA


            “Sayang, aku HIV! Kamu ngapain aja?” cuplikan dialog dari pementasan drama berjudul sama yang diangkat oleh teater UI tersebut amat terasa efeknya ketika memasuki bulan Desember. Banyak aktivis muda turun ke jalanan dan membagi-bagi gratis informasi soal HIV/AIDS. Penyakit yang dianggap ‘kutukan’ ini sudah mengekspansi masyarakat Indonesia.
 Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome yang biasa disingkat AIDS adalah gejala rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia yang disebabkan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan (M. Zainal, 2010).
Tidak dipungkiri bahwa kini virus HIV marak akibat pergaulan bebas yang menjangkiti Indonesia di era globalisasi. Terlebih di daerah-daerah metropolitan seperti Surabaya dan Jakarta yang memiliki “lumbung prostitusi terbesar di Asia Tenggara“. Berdasar data resmi Kementrian Kesehatan RI, pada triwulan kedua tahun 2011, secara kumulatif jumlah kasus AIDS tercatat sebanyak 26.483. Berdasar kelompok umur, pengidap terbesar pada kelompok umur 20-29, sebanyak 36,4% disusul dengan kelompok umur 30-39 tahun sebesar 34,5%.
Karena penulis tinggal di Surabaya, maka penulis ingin sekali mengetengahkan masalah ini di Surabaya kepada Anda. Daerah gang dolly adalah pusat prostitusi di Asia Tenggara. Di sana banyak dijumpai kupu-kupu malam yang sedianya menjajakan “barang” mereka. Entah karena paksaan ataupun memang meniatkan hal tersebut. Dari sini kemudian muncullah kasus-kasus HIV/AIDS yang akhirnya mengenai para pelanggan maupun para pekerja asusila.
Apa reaksi mereka yang dinyatakan terkena HIV/AIDS? Menurut pemberitaan Jawa Pos tertanggal 1 Desember 2011, rata-rata mereka syok, sedih, tertekan, dan merasa kehilangan semangat hidup. Pun begitu dengan keluarga mereka yang kurang mendapatkan informasi soal penularan HIV/AIDS. Padahal virus HIV/AIDS tidak menular melalui sentuhan dan percakapan, tetapi HIV ditularkan melalui kontak langsung antara membran mukosa atau aliran darah, dengan cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Karena pemahaman yang kurang inilah akhirnya seorang pengidap HIV/AIDS mendapatkan stigma buruk dari lingkungannya.
Penelitian nasional dari Universitas Udayana yang bekerjasama dengan AusAID serta UNAIDS pada tahun 2001 menyatakan bahwa para pengidap HIV positif didiskriminasikan oleh masyarakat di sekitar mereka. Bahkan keluarga mereka sendiri. Stigma dan sikap penjauhan dari masyarakat selalu menghantui mereka di manapun mereka berada. Hidup mereka seakan berada dalam bayang-bayang hitam virus mematikan itu.
Sebagai contoh nyata potret pelanggaran HAM terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), berikut ini penulis sajikan studi kasus yang diambil dari narasumber terpercaya:
M mengaku dirinya adalah seorang PSK di Gang Dolly. Sehari-hari, ia menjajakan dirinya kepada beberapa pelanggan yang datang. Penampilannya menarik, ceria, dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyakit mematikan itu. Namun, ketika diperhatikan lebih cermat, ada bintik-bintik hitam di tubuh M. Ia berkata bahwa itu adalah efek dari obat penambah sel darah putih yang bisa membantunya melawan virus HIV.
M mengetahui ini sejak tahun 2006 lalu. Berawal dari batuk yang tak kunjung sembuh dan sesak napas, M langsung dibawa ke rumah sakit Dr. Soetomo oleh temannya. Ternyata, ia positif HIV. Seketika itu pula, M merasa putus asa dan menurut pengakuannya ia seperti dijatuhi hukuman mati. Ia membayangkan segala hal yang negatif tentang dirinya dan stigma yang akan diperolehnya.
Benar saja, begitu orang-orang di sekitarnya tahu bahwa dia positif HIV, M selalu disingkirkan dari pergaulan orang sekitar. Ia juga berpindah-pindah kos tiga kali hanya karena ditengarai sebagai ODHA. Dunia kerja tak ada yang mau menerimanya sebagai karyawati. Akibatnya, niatannya untuk mendulang sukses dengan menjadi pekerja halal pun tertunda. Ia kembali menjadi kupu-kupu malam untuk menghidupi dirinya sekaligus membeli obat-obatan untuk membantu meringankan bebannya gara-gara virus itu (Jawa Pos, 2008).
Kemudian, apa tanggapan kita terhadap M? Apakah ia yang harus disalahkan? Ataukah orang yang telah menularkan virus HIV terhadapnya? Perlakuan menyusahkan dari masyarakat yang salah-salah kemudian menjadi alasan baginya kembali dalam dunia haram justru menjadi hal yang selalu ia dapatkan. Pernahkah kita berpikir bahwa masyarakat yang melakukan hal jahat padanya itu termasuk pelanggaran HAM yang diberikan Tuhan?
Dunia internasional melalui PBB telah merilis DUHAM (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia) atau UDHR (Universal Declaration of Human Rights). Di dalam piagam tersebut, dicantumkan 30 pasal yang tediri atas 23 pasal tentang hak-hak politik dan 7 pasal tentang hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya. Indonesia sebagai salah satu negara anggota PBB, juga telah meratifikasi piagam tersebut dengan penyesuaian kondisi masyarakat kita.
Dalam kasus pelanggaran HAM ODHA, pelanggaran atas hak budaya, ekonomi, dan sosial yang paling banyak. Terbukti dalam kasus M, dia kesulitan mencari pekerjaan yang layak, diasingkan dari masyarakat, dan dipandang sebelah mata. Begitu juga dengan ODHA lainnya. Secara otomatis, ketika mereka divonis terkena HIV/AIDS, mereka langsung menyembunyikan rapat-rapat kondisi kesehatan mereka. Akibatnya adalah penanganan yang terlambat justru akan memperburuk kondisi ODHA tersebut.
Padahal Konvensi Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (The International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights) telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dengan UU No. 11 Tahun 2005 meliputi hak makanan dan standar kehidupan, hak kesehatan dan kesejahteraan perorangan atau keluarga, hak untuk bekerja, beristirahat dan bersantai, dan hak atas keamanan sosial. Yang perlu digarisbawahi adalah semua hak-hak tersebut berlaku bagi seluruh masyarakat Indonesia, termasuk ODHA. Namun, peratifikasian ini belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat.
Akibatnya secara tidak sadar, masyarakat pun melakukan tindak pelanggaran HAM laten. Yakni pelanggaran HAM terhadap ODHA atas hak kenyamanan hidup dan hak kesejahteraan perorangan atau keluarga. Sayangnya, perilaku ini kurang ditindak tegas dari pemerintah. Memang pemerintah sudah meratifikasi, tetapi belum menyosialisasikan untuk apa, siapa, dan bagaimana penerapannya. Justru yang terjun langsung kepada masyarakat adalah organisasi-organisasi peduli HIV/AIDS. Mereka mempelajari, memahami, dan memberikan informasi yang konkrit mengenai HIV/AIDS di masyarakat.
--
Stigma Agama
Posisi seseorang dilihat dari kelompok dan teman-temannya. Jika temannya merupakan orang baik-baik, maka ia pun mendapatkan stigma baik. Tetapi ketika temannya orang-orang seperti M, secara tidak langsung masyarakat akan ikut mencela dirinya. Padahal belum tentu orang-orang yang berdekatan dan berkecimpung dalam dunia ODHA ikut terjerumus menjadi pengidap. Hukum alam inilah yang akhirnya memaksa sebagian orang untuk melakukan pelanggaran HAM terhadap ODHA. Sebagian besar alasan mereka semata-mata takut ikut mendapatkan perlakuan buruk dari masyarakat sekitar dan diasingkan lingkungannya.
Terlebih Indonesia mendapatkan julukan negara yang agamis, negara yang spiritualitasnya tinggi. Secara tidak langsung, mindset masyarakat tentang ODHA adalah mereka yang tidak bisa menjaga perasaan malu dan harga dirinya dengan benteng agama yang kuat. Maka perlahan-lahan masyarakat ‘bersih’ pun menjauhi para ODHA dengan alasan virus HIV akan mudah menulari mereka. Padahal jika kita mau menerima dan mempelajari HIV/AIDS, virus itu tidak akan menular melalui obrolan ringan yang mungkin dapat sedikit meringankan beban mereka.
Semangat Tanpa Batas   
Seorang guru IPS penulis pernah berkata bahwa hidup seseorang memang tak bisa dilepaskan dari stigma masyarakat. Manusia sebagai makhluk sosial mendapatkan kodrat saling bergantung dengan manusia lainnya. Kita tidak bisa hidup di dunia ini sendirian. Artinya pandangan masyarakat terhadap diri kita adalah sesuatu yang mutlak. Ketika pandangan masyarakat baik, dengan senang hati kita menerimanya. Namun ketika pandangan mereka buruk, proses agar mereka mempercayai kita kembali adalah hal yang sulit dan butuh waktu bertahun-tahun sebagai pembuktian diri kita.
Begitu pula tentang pandangan masyarakat terhadap ODHA. Apalagi pengidap ODHA tersebut bekerja sebagai kupu-kupu malam yang mendapatkan respon negatif dari masyarakat kebanyakan dari awal. Di sisi lain, mereka juga memiliki hak yang sama sebagai manusia. Yakni hak untuk hidup nyaman, hak untuk diberi pekerjaan yang layak, hak untuk memperoleh kesehatan, pendidikan, dan keamanan.
Sejak ditemukannya penderita HIV/AIDS di Indonesia pada tahun 1987, masyarakat langsung memasang stigma buruk serta kurang menerima informasi tentang penyakit ini secara lengkap. Karena itulah, diperlukan adanya upaya-upaya nyata yang bersumber dari semangat tanpa batas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap ODHA sehingga mereka memiliki kualitas hidup yang sama dengan masyarakat lain.
Ada beberapa langkah yang akan penulis jelaskan. Mungkin untuk bergabung dengan LSM peduli HIV/AIDS sudah cukup. Di Surabaya sendiri, mayoritas aktivis HIV/AIDS adalah mantan pecandu narkoba atau pengidap positif. Tetapi akan lebih baik jika kita, terutama para remaja yang masih duduk di bangku SMA dan kuliah membuat komunitas sendiri di lingkungannya masing-masing. Walaupun kita bukan pengidap HIV/AIDS, tetapi memberikan informasi secara tepat dan menyeluruh kepada masyarakat merupakan hal yang wajib dilakukan. Ini adalah sebagai tanda awal bahwa kita yang non-ODHA peduli dengan pengembalian hak asasi mereka.
Agar lebih meyakinkan masyarakat akan program kerja komunitas tersebut, paparkan bahwa kita bukanlah penderita ODHA yang dibuktikan dengan surat pernyataaan hasil tes laboratorium dari dokter. Jangan lupa perkuat benteng diri dan terus update informasi mengenai HIV/AIDS, bagaimana gejalanya dan apa yang harus dilakukan ketika pertama kali bertemu dengan ODHA. Juga berikan edukasi kepada keluarga dan masyarakat sekitar agar mau  berpartisipasi dalam komunitas tersebut. Karena semakin banyak yang peduli ODHA, maka akan semakin banyak pula orang-orang yang berlaku adil terhadap mereka. Setelah masyarakat percaya, barulah kita memasukkan pengaruh-pengaruh kita bahwa menjauhi ODHA sama dengan melanggar hak asasi manusia. Sertakan pula alasannya mengapa dan paparkan pengetahuan sederhana seputar HIV/AIDS terhadap masyarakat awam.
Untuk teknisnya, penulis menyarankan agar tidak dilakukan secara kaku. Tetapi lebih baik dengan metode pembauran dalam masyarakat. Atau mengadakan pelatihan penanganan sosial HIV/AIDS di suatu kampung yang bekerjasama dengan komunitas kita dan beberapa instansi kesehatan terkait. Untuk evaluasi, komunitas tersebut mendatangkan seorang pengidap HIV/AIDS untuk bermukim sementara di dalam kampung tersebut. Ketika mereka mulai menerimanya dengan wajar, berarti program itu berhasil dan kemudian dilanjutkan dengan kampung-kampung berikutnya secara bertahap.
Untuk masing-masing kampung binaan, perlu diberi penekanan atas sikap kesetaraan perolehan hak asasi manusia dan peningkatan motivasi yang diberikan kepada ODHA yang bersangkutan. Tujuannya adalah agar masyarakat secara perlahan-lahan mengerti tentang HIV/AIDS dan melepaskan stigma buruk mereka terhadap ODHA. Berikan sugesti kepada masyarakat bahwa ODHA tidak ditularkan melalui percakapan, sentuhan, bahkan alat makan yang digunakan bersama.
Sementara untuk ODHA, mereka perlu diberikan konseling dan motivasi dari teman-teman sebaya yang perlahan-lahan meningkatkan rasa percaya diri mereka. Sudah menjadi kewajiban komunitas tersebut agar memberdayakan ODHA sebagai seorang pekerja terampil. Tujuannya adalah agar ODHA tersebut tidak akan menjadi manusia-manusia yang lebih amoral dengan menjajakan dirinya sendiri di lokalisasi atau malah menggunakan narkoba. Selain itu memberikan bimbingan rohani kepada ODHA juga tak boleh dilupakan.
Cara-cara kreatif yang diperlukan atas penanganan ini adalah selalu memberikan mereka kesempatan untuk jalan-jalan dan menghirup udara segar. Kemungkinan besar, mereka akan menolak mentah-mentah. Karena mereka sudah mensugestikan dirinya buruk dan tidak berguna di masyarakat, mereka harus diberikan pandangan yang mendukung. Menyadarkan mereka agar tidak takut dengan pembatasan diri dan stigma masyarakat, mengajak mereka ke forum-forum agama juga akan membantu mereka untuk bersosialisasi kembali. Akan menjadi suatu nilai tambah ketika ODHA juga ikut mengkader ODHA lainnya. Biasanya di sini akan timbul rasa solidaritas dan komitmen bersama untuk mengembangkan informasi di masyarakat luas.
Dan saran penulis untuk pemerintah adalah agar menyamakan hukuman bagi pelanggar HAM ODHA dengan pelanggar pada kasus HAM lainnya. Karena bagaimanapun, ODHA adalah makhluk Tuhan yang telah ditetapkan kodratnya. Misalnya dengan memberikan pelayanan prima kepada ODHA di rumah sakit pemerintah dan tidak ada diskriminasi perawatan. Selain itu juga berusaha mengurangi dengan cara apapun agar ODHA semakin mendekati angka nol.
Cara lain yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengurangi pelanggaran HAM pada ODHA adalah memberi mereka pekerjaan yang layak agar kepribadian mereka kembali stabil. Dengan begitu, masyarakat pun akan mulai peduli terhadap mereka.
Dari berbagai uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan yang bisa dijadikan prinsip bahwa ODHA tidak perlu merasa risau dengan kondisinya dalam masyarakat. ODHA juga manusia yang memiliki hak asasi yang perlu dijunjung tinggi oleh semua lapisan masyarakat. Hanya satu yang perlu ditanamkan kepada mereka: kepercayaan diri. Karena satu-satunya hal yang paling mereka risaukan adalah status kesehatan mereka. Dan yang bisa mengembalikan peran mereka dalam masyarakat hanyalah kepercayaan diri yang tinggi.
Pengobatan ODHA tidak hanya secara medis, tetapi juga perlu secara psikologis. Ketika ilmu kedokteran sudah berkembang pesat, maka kemampuan psikologis masyarakat juga harus seimbang dengannya. Jangan sampai ada ketimpangan antara ilmu kedokteran dan ilmu sosial di masyarakat. UNAIDS menunjukkan tahun 2011 adalah tahun yang paling cerah karena ODHA sedunia mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tidakkah ini menjadi pemicu kita untuk lebih memuliakan ODHA dalam hidupnya yang mungkin terlalu singkat?
Penulis sadar bahwa merealisasikan program seperti ini butuh semangat tiada henti. Butuh semangat untuk terus memberdayakan masyarakat menjadi masyarakat yang sadar HAM sepenuhnya. Selain itu, dengan saling bersikap terbuka antara ODHA dan masyarakat non ODHA akan mempercepat tindakan preventif yang sangat diperlukan bagi ODHA sendiri. Kerjasama yang baik dan solid antar komponen masyrakat, pemerintah, aktivis HIV/AIDS, dan ODHA sangat diperlukan demi terciptanya Indonesia yang bebas dari HIV/AIDS.

Poverty in Indonesia


          Indonesia still has a big problem beside corruption. And it called: poverty. There’re many people who live in marginal condition. They live with minimum service from the government because they have less money to take their best services. In general, poverty means that people have economic inability to fill their basic needs. It can be measured from their expulsion (Strategic Data of Statistics Indonesia, 2011). But another source is told that poverty not only about economic’ problem, but it also being a multidimensional problem.
            This paragraph will tell you that poverty is multidimensional problem. First problem is inability to fill the human’s basic needs. In this problem, people can’t get the best of their own needs. Usually, it’s followed by nutrition problem. Then, years over years it blossoms out, being healthy, education, and other problems. Like domino effect in USA, but maybe it’s more complex and needs to repair soon. Second problem is too many demography loads. The people, who live under poverty line, usually have more children than the others. Definitely, they have to pay bigger than normal people, but it prevails just in basic needs.
            And government has been surveying this phenomenon in Indonesia since 1984. They used method “Basic Needs Approach” to get the data. The poverty in Indonesia is given by the Poverty Line, Poverty Gap Index and Poverty Severity Index. It’s an example about the newest poverty’s data:
Year
Poverty Line
Poor People
Urban (rupiahs)
Rural (rupiahs)
Urban (millions)
Rural (millions)
2007
2008
2009
2010
2011
187 942
204 896
222 123
232 989
253 016
146 837
161 831
179 835
192 354
213 395
13,56
12,77
11,91
11,10
11,05

23,61
22,19
20,62
19,93
18,97

(Source : Statistical Yearbook of Indonesia, Statistic Indonesia)


            From the table, we know that every year, government success to decrease the poverty in Indonesia. Many of government’s programs to poor people has released since 2005, such as Gakin Card (Poor Family Card), Free LPG, Free Basic Needs, and the others. Beside the program, there’re many factors which influence the decreasing number of poverty; such as during March 2010-March 2011 period, Indonesia has low inflation, the average salary of daily worker increases around 7,14 %, and the farmers also have an increasing salary.
            It’s a fun fact that we know. And also, the government needs us as Indonesia’s citizen to help them decreasing poverty in Indonesia. So, many years again, Indonesia can be free without poverty and being the best country in the world.
(Source : Statistics Indonesia, 2011)