Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh seberapa bagus mentalitas pemudanya untuk menjadi bangsa yang lebih baik. Peran pemuda yang disebut-sebut sebagai tonggak penerus kehidupan bangsa, tentu saja menjadi suatu hal yang vital. Terutama jika peran pemuda ini dikaitkan dengan fungsi finansial yang mendukung pembangunan di segala sektor.
Nantinya, peran merekalah yang akan menjadikan asas kemandirian berekonomi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju. Bukannya malah membuat Indonesia tetap menjadi negara berkembang.
Sementara itu, dalam berita terbaru yang dilansir oleh Bank Dunia berdasarkan pengamatan Enrique Blanco Armas, Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4%. Bahkan angka bisa terus meningkat menjadi 7%. Namun, suatu pemikiran pesimis justru datang dari ekonom utama Bank Dunia, Subham Chaudhuri, bahwa ekonomi Indonesia hanya mengalami kenaikan 6,2% selama tahun 2011. Itu pun dengan syarat infrastruktur Indonesia harus diperbaiki terlebih dahulu.
Tidak hanya itu, setiap tahun lulusan sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan, rata-rata mengalami peningkatan 20%. Fenomena ini menimbulkan akibat yang malah memperburuk ekonomi Indonesia. Yakni banyaknya masyarakat berusia produktif yang belum mandiri. Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa bidang yang mereka pelajari di perkuliahanlah yang sangat menentukan masa depan mereka. Termasuk urusan pekerjaan yang akan mereka dapatkan. Pemikiran yang sempit ini akhirnya membuat penyesalan berkepanjangan.
Padahal jika para pemuda Indonesia –yang disebut-sebut sebagai subyek utama pembangunan– sedikit berinovasi dari produk yang telah ada, maka langkah kecil dari mereka bisa mengembangkan perekonomian Indonesia secara signifikan. Dibuktikan dengan survei Bank Dunia tahun 2010 yang menempatkan faktor inovasi (45%) sebagai urutan pertama, disusul networking (25%), teknologi (20%), dan sumber daya (10%).
Kata inovasi erat kaitannya dengan konsep entrepreneurship. Konsep ini mengkombinasikan berbagai faktor input dengan inovasi untuk menghasilkan nilai bagi konsumen dengan harapan menciptakan kemakmuran. Dan Indonesia masih memiliki pengusaha entrepreneur sebesar 0,18% dari total penduduk Indonesia. Angka yang masih sangat jauh dari standar pengusaha entrepreneur di negara-negara maju, yakni 2% dari keseluruhan penduduk. Sementara negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, dan Singapura memiliki tingkat entrepreneurship lebih dari 7% tahun ini (Global Entrepreneur Moneter, 2010).
Penyebab Indonesia masih menjadi negara berkembang juga disebabkan mayoritas pemudanya masih belum bisa memproduksi barang yang diinginkan konsumen Indonesia. Kita hanya bisa memasarkan, bukan membuat barang tersebut. Kita lebih memilih barang jadi dengan tingkat aksesibilitas tinggi dan tidak mau bersusah payah memproduksi. Kalaupun ada, masih sebatas skala usaha kecil dan menengah, bukan sebagai usaha skala besar dan nasional.
Berbagai alasan yang sebenarnya tidak perlu dirisaukan terlalu dibesar-besarkan. Sebagai contoh, faktor pengolahan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang susah. Istilah lainnya bangsa kita terlalu apatis dan takut menghadapi persaingan yang ada. Pola pikir seperti ini wajib dihapus melalui berbagai cara. Walaupun hasilnya belum bisa terlihat di waktu yang singkat.
Menjadi bangsa yang mandiri memang sulit. Di berbagai negara maju sekarang, mereka memulai semuanya dari nol. Mereka berusaha memandirikan pemudanya dengan berbagai peluang yang ada. Mereka melatih para pemudanya sejak kecil dengan cara bersikap skeptis positif demi suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Awalnya mungkin tidak berorientasi di bidang ekonomi. Tetapi ketika pemuda itu mulai beranjak dewasa dan berhubungan langsung dengan sistem finansial, sikap skeptis tersebut melahirkan sebuah inovasi kreatif yang sangat menguntungkan.
Tidak bisakah kita mencontoh dari bangsa-bangsa yang pernah menjajah kita? Setidaknya pengaruh positif zaman penjajahan kompeni masih bisa kita tiru di zaman ini. Lantas, apa yang bisa kita tiru?
Lembaga perdagangan independen VOC bisa dijadikan contoh lembaga entrepreneur yang beromzet miliaran rupiah. Dengan komoditas utama rempah-rempah dan diselingin berbagai kebijakan serta hak Octrooi (hak istimewa dari pemerintah Belanda), VOC sukses menguasai seluruh Indonesia. Sederhana saja sebenarnya konsep kerja VOC, mereka menyurvei rempah-rempah yang diinginkan konsumen, memproduksi, dan menjualnya dengan harga tinggi. Sayangnya VOC memaksa rakyat Indonesia agar menanam komoditas rempah sesuai dengan target mereka. VOC pun mampu berdiri selama 198 tahun tanpa campur tangan pemerintah Belanda.
Sekali lagi, entrepreneur bisa dijadikan sebagai indikator maju atau tidaknya suatu negara. Karena entrepreneur minded selalu mengedepankan rasa percaya diri untuk mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk mencapai profit yang ditargetkan. Landasan kepercayaan diri merupakan invisible power untuk menetapkan langkah kebijakan yang berdampak positif bagi pembangunan bangsa ke arah developed nation.
Pemerintah menargetkan besarnya pengusaha entrepreneur akan meningkat menjadi 2% dalam jangka lima tahun ke depan. Itu juga kalau ada program dari pemerintah yang khusus menangani masalah pengembangan pengusaha entrepreneur. Kalau tidak? Apakah kita sebagai pemuda Indonesia hanya berdiam diri?
Salah satu caranya adalah membentuk suatu organisasi kepemudaan nasional yang fokus dengan masalah pengembangan entrepreneur di Indonesia. Organisasi semacam ini mampu menggerakkan para pemuda untuk benar-benar terjun dalam bidang entrepreneur. Akan lebih baik jika para entrepreneur muda ikut membina calon-calon yang berpotensial tersebut.
Bidang-bidang yang akan dibina tidak hanya kemampuan teknis, tetapi juga soft skill yang meliputi: motivasional, kestabilan emosi, dan penanaman nilai moral. Sementara pembinaan teknis meliputi: dasar-dasar entrepreneur, pengembangan usaha, permodalan, dan praktek dalam skala kecil. Keseimbangan antara kedua hal tersebut sangat penting. Karena bisnis entrepreneur memiliki resiko tinggi, menciptakan kekayaan dalam waktu yang singkat, dan inovasi substansial yang lebih dari UKM.
Agar lebih efektif, organisasi ini tidak hanya melatih mereka yang sudah berstatus mahasiswa. Tetapi juga mulai dari siswa SMP dan SMA. Agar ketika masa studi mereka selesai, mereka bisa langsung membuka lapangan pekerjaan baru tanpa harus menunggu pemanggilan dari perusahaan-perusahaan yang mereka beri surat lamaran.
| [1]BPS.2011.Booklet Agustus 2011.hlm 50 |
No comments:
Post a Comment