Surabaya memiliki satu kesenian tradisional yang hingga kini semakin habis peminatnya. Bahkan, bisa dikatakan langka; baik untuk pemainnya maupun penontonnya. Jika tidak ada usaha dari generasi muda untuk melestarikannya, budaya yang satu ini bisa-bisa punah. Dan, kebudayaan itu adalah seni ludruk.
Awalnya, ludruk hanyalah seni jalanan yang menyuguhkan parodi kisah sehari-hari. Ludruk diprovokatori oleh Pak Santik, petani dari Desa Ceweng, Kecamatan Gudo, Jombang. Beliau bersama kedua temannya menjelajahi berbagai kota di Jawa Timur dengan melawak. Tidak hanya lawakan, namun juga syair-syair Jawa Timuran. Di setiap episodenya, mereka bertiga mencoba menyuguhkan kisah-kisah ‘akar rumput’ yang akrab dengan masyarakat. Sehingga, masyarakat pun banyak yang tertarik dengan seni pertunjukan ini. Hingga ketika sampai di Surabaya, mereka mulai mendirikan perkumpulan yang diberi nama ludruk.
Terdapat berbagai makna dari kata ludruk. Menurut penelitian Sadi Hutomo, menurut kamus Javanansch Nederduitssch Woordenboek karya Gencke dan T. Roorda tahun 1847, ludruk dapat berarti Grappermaker (badutan). Selain itu, ada pula yang mengartikan ludruk sebagai penari wanita dan badhut. Atau bisa disebut sebagai pelawak yang terdapat pada karya WJS Poerwadarminta (BPE Sastra tahun 1930).
Ludruk pun bertransformasi menjadi ciri khas masyarakat Surabaya. Berbagai unsur yang terdapat di dalamnya, seperti cerita, dialog, kostum, dan kelengkapan lainnya disesuaikan dengan budaya masyarakat Surabaya.
Dialog, misalnya. Para pemain selalu menggunakan bahasa asli Surabaya yang cenderung blak-blakan, spontan, dan segar. Hal ini dilakukan agar para penonton lebih mudah menikmati adegan-adegan ludruk. Meskipun bahasanya asli Surabaya, tidak akan ada kata-kata yang tidak sopan. Format penampilan pun mulai ditambah dengan hadirnya tari Ngremo sebagai pembuka ludruk. Bahkan diselingi dengan kidung campursari. Sebuah ide kreatif yang luar biasa dari masyarakat kecil agar dapat menghibur sekaligus memenuhi kebutuhan hidup.
Kurang lebih 15 hingga 20 tahun yang lalu, ludruk sangat populer di kalangan masyarakat Surabaya. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya masyarakat Surabaya yang menyuguhkan ludruk sebagai acara hiburan ketika ada pernikahan, khitanan, atau acara-acara dalam tradisi masyarakat Jawa.
Bahkan, ketika itu tempat pertunjukan ludruk tidak pernah sepi dari pengunjung. Tawaran dari masyarakat untuk naik panggung di acara mereka pun tak pernah habis. Sehingga ada sebuah pemeo : “Orang Surabaya kalau tak punya uang, tak akan mengundang grup ludruk di acaranya.“ Hal ini menunjukkan bahwa ludruk sedang dalam masa-masa emas. Berikutnya, muncullah grup ludruk ternama, seperti Kartolo cs, Loedroek Tjap Tugu Pahlawan, Ludruk Irama Budaya dan berbagai komunitas pemain ludruk lainnya.
Itu zaman dulu. Sekarang, setelah masuknya arus globalisasi, seakan-akan identitas bangsa juga ikut tergerus. Bahkan, penerus pemimpin perjuangan bangsa, alias para pemuda Surabaya, sudah tidak peduli lagi dengan kesenian tradisional ini. Masyarakat pun lebih senang menghadirkan grup musik dangdut untuk menggantikan ludruk.
Penulis pernah mewawancarai salah seorang pemain ludruk Irama Budaya yang masih bertahan di tengah hiruk pikuk publik Surabaya. Ironisnya, markas ludruk Irama Budaya ini terletak di belakang mal THR, tersembunyi di tempat kumuh dan banyak sampah. Jika masyarakat tidak jeli menjelajah lebih jauh ke dalam, mereka tidak akan bisa menemukan markas budaya asli Surabaya itu.
Beliau berkata bahwa pertunjukan-pertunjukan yang diadakan, dihadiri tidak lebih dari 5 hingga 10 orang. Padahal, harga tiketnya Rp 2.500, 00. Kalau ada yang menonton, mayoritas adalah generasi tua yang dulu sempat berada di zaman keemasan ludruk. Sayangnya, generasi muda hanya segelintir orang.
Hal ini membuat para pejuang ludruk mencari pekerjaan sampingan, seperti tukang sapu, perias pengantin, dan berjualan minuman di depan Mal THR. Tidur pun hanya di emperan gedung yang dulunya pernah menjadi gedung pusat kebudayaan di Surabaya. Berbagai usaha telah mereka lakukan demi kontinuitas ludruk. Mencoba menggugah Pemerintah sudah pernah mereka lakukan, pun promosi melalui jejaring sosial seperti Facebook,dan Twitter bisa dibilang gencar.
Kabar baiknya ternyata masih ada generasi muda Surabaya dari beberapa sekolah yang ikut meramaikan pentas seni tradisional itu. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak para pemain ludruk senior yang telah dilatih oleh orang tua mereka. Namun, ada juga teman-teman mereka yang tertarik dan akhirnya ikut menjadi penerus pemain ludruk Irama Budaya. Yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa sebagian besar dari kawula muda Surabaya lebih menikmati suguhan ala Barat? Tidak bisakah kita mencontoh anak-anak itu?
Sebagai kaum terpelajar sekaligus generasi muda Surabaya, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah merekonstruksi ludruk. Di sini bukan berarti merombak segala kekhasan ludruk. Hanya saja mungkin memodifikasi beberapa unsurnya. Seperti naskah cerita dan tempat pementasan. Karena keberhasilan suatu pementasan seni juga bergantung pada kedua hal di atas.
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membentuk grup ludruk atau mengadakan kerja sama (kolaborasi) antara pelajar dengan pemain ludruk profesional. Setelah kerjasama tersebut berlangsung, maka dimulailah proses perencanaan cerita yang akan ditampilkan.
Misalnya jika biasanya, kisah-kisah ludruk yang ditampilkan hanyalah cerita rakyat biasa, untuk pendobrakan awal bisa menggunakan cerita Sudjiwo Tedjo. Beliau dikenal mengisi kolom untuk cerita parodi pewayangan di salah satu surat kabar terkemuka di Indonesia. Cerita-cerita beliau mampu menggugah pikiran dan sesuai dengan kondisi saat ini. Uniknya, tokoh yang beliau gunakan adalah para lakon pewayangan, seperti Punakawan, Prabu Kresna, dan kawan-kawannya.
Cerita tersebut mengandung kekocakan dosis tinggi. Di mana, kekocakan tersebut sesuai dengan ciri khas ludruk yang sifatnya menghibur masyarakat. Sehingga di samping menghidupkan kisah-kisah tradisional, secara tidak langsung kita akan melestarikan dua kebudayaan : ludruk dan cerita pewayangan.
Hal kedua yang perlu direkonstruksi adalah panggung yang akan digunakan. Jika selama ini hanya bertempat di gedung budaya, maka tempat yang penulis usulkan adalah di lobi sebuah mal terkenal di pusat kota. Atau jika mungkin terlalu mahal untuk menyewa sebuah lobi, di halaman mal pun tidak jadi masalah. Asalkan masih dalam lingkup mal yang sarat dengan keramaian pengunjung.
Agar lebih meyakinkan, dapat didukung pula dengan hadirnya gamelan dan kidung di tengah-tengah pementasan ludruk. Kelengkapan properti seperti ini secara implisit akan mengobati masyarakat Surabaya yang rindu akan budaya tradisionalnya yang kian tergerus zaman.
Selain itu, masih ada satu masalah yang sangat fatal. Yakni ketersediaan dana untuk mendukung kontinuitas pementasan ludruk. Panitia sekaligus pemain harus mencari dukungan dana dari lembaga-lembaga maupun masyarakat yang masih peduli terhadap nasib budaya bangsa. Bila dimungkinkan, mereka juga harus bisa mencari dana dari Pemerintah, terutama dari Komite Kebudayaan. Tentunya semua itu harus dilandasi dengan keikhlasan dan selalu berpikir positif. Karena pemikiran yang negatif tak akan pernah menghasilkan kesuksesan.
Saat ini di Surabaya, beberapa institusi pendidikan tingkat menengah maupun universitas ada yang membuka ekstrakurikuler ludruk sebagai usaha untuk melestarikannya. Dan hal ini patut untuk mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat Indonesia. Penulis berharap generasi sekarang dan yang akan datang akan semakin mencintai ludruk, mencintai produk asli bangsa Indonesia.
Berbagai usaha di atas diharapkan dapat melestarikan salah satu seni khas Surabaya, yaitu ludruk. Karena seni tradisional adalah salah satu identitas yang akan memberi label sebuah tempat. Karena warisan nenek moyang adalah warna bagi kehidupan modern. Agar kehidupan masyarakat Surabaya tidak hanya diwarnai dengan hedonisme, mal, dan segala hal yang kebarat-baratan. Tapi juga ada nilai-nilai budaya ketimuran yang tetap akan menjadi jati diri bangsa Indonesia, di Surabaya khususnya.
No comments:
Post a Comment